perbedaan hadits

Perbedaan Hadits, Sunnah, Khabar dan Atsar

Saat mengkaji ilmu hadits, Kita temukan istilah-istilah yang pengertiannya mirip.

Seperti istilah hadits, sunnah, khabar dan atsar.

Ada yang menyebut hadits sama dengan sunnah, ada pula yang berbeda.

Demikian juga dengan khabar dan atsar.

Untuk mengetahui perbedaan keempatnya, saya ulas secara runtut di artikel ini.

Perbedaan Hadits dan Sunnah

Dalam kajian semantik, hadits memiliki tiga arti.

Pertama, yaitu baru (jadid). Bentuk jamaknya adalah hidats, hudatsa, dan huduts.

Kedua, berarti dekat (qarib), seperti حديث العهد بالاسلام  (Masa yang sangat dekat dengan Islam / era baru Islam).

Ketiga, berarti berita (khabar), dengan maksud ما يتحدث به وينقل (sesuatu yang dibicarakan dan dipindahkan dari seseorang).[1]

Menurut istilah, hadits adalah segala sesuatu baik berupa ucapan, perbuatan, maupun persetujuan yang diriwayatkan dari Rasulullah setelah beliau diangkat menjadi Nabi.[2]

Lantas bagaimana dengan sunnah?

Ulama memberikan definisi yang beraneka ragam.

Menurut ulama hadits, sunnah adalah sesuatu yang bersumber dari Rasul yang berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan, sifat akhlak dan perjalanan hidupnya, baik sebelum atau sesudah diangkat menjadi Rasul.[3]

Dalam hal ini, sunnah dan hadits berbeda.

Sunnah lebih umum dari pada hadits. Ia ada baik sebelum maupun sesudah kenabian.

Sedang hadits, sebagaimana definisi di atas, ada setelah nubuwah.

Kalangan ushŭli mendefiniskan sunnah sebagai setiap sesuatu yang bersumber dari Nabi selain al-Qur’an, baik ucapan, perbuatan, maupun persetujuan yang sekiranya pantas menjadi dalil syar’i.[4]

Ulama fiqih mengartikan sunnah sebagai  sesuatu selain fardlu dan wajib yang ditempuh berdasarkan ketentuan agama, selain wujub atau iftirad.[5]

Perbedaan definisi di atas tampaknya disebabkan oleh perbedaan fokus bahasan keilmuan yang mereka dalami.

Ulama hadits mengkaji Rasul sebagai imam yang memberi petunjuk dan menyampaikan berita dari langit, sekaligus sebagai teladan, pola dan perilaku beliau yang sejak awal tergolong mulia.

Karenanya, mereka menganggap semua hal yang terkandung dalam perjalanan hidup beliau sebagai sunnah.

Ulama ushŭl berpandangan bahwa sunnah adalah sesuatu yang sekiranya dapat menghasilkan kaidah-kaidah hukum bagi mujtahid.

Sedang pakar fiqh bertolak pada aspek aplikatif yang mengarah pada perbuatan mukallaf.[6]

Bila direnungkan kembali, tampaknya hadits versi muhadditsîn dan sunnah versi ushŭliyîn memiliki sisi kesamaan.

Menurut muhadditsîn, hadits mengarah pada sesuatu yang bersumber dari Nabi pasca penetapan nubuwah.

Gerak-gerik Nabi pasca penetapan tersebut yang sekiranya berkaitan dengan agama disebut sebagai syariat.

Karenanya syariat baru berlaku setelah penerimaan wahyu pertama.

Ushŭliyîn menyatakan sunnah sebagai informasi yang berkaitan dengan syariat.

Sehingga pakar ushul seolah-olah secara tidak langsung menganggap sunnah terjadi setelah penetapan kenabian.

Hanya saja ushŭliyîn mentendensikan sunnah pada aspek di mana ia dapat menghasilkan kaidah-kaidah ushŭl bagi mujtahid.

Khabar dan Atsar

Berbeda dengan hadits dan sunnah, khabar adalah segala sesuatu yang datang baik dari Nabi, sahabat, maupun tabi’in.[7]

Pengertian khabar tampak lebih umum, karena sumbernya tidak hanya bertumpu dari Rasul.

Terakhir, beberapa ulama ada yang mendefinisikan atsar sama dengan khabar, ada juga yang menganggapnya berbeda.

Pakar fiqih Khurasan beranggapan bahwa atsar bersumber dari sahabat yang memahami hadits, sedang khabar hanya berasal dari Nabi.[8]

______________

Referensi

[1] Usman Sya’roni, Otentitas Hadits Menurut Ahli Hadits dan Kaum Sufi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), hal. 2-3.
[2] Ibid. hal. 27.
[3] Muhammad ‘Ajaz al-Khatib, Ushûl al-Hadits, (Bairut: Dâru al-Fiqr, 1979), hal. 19
[4] Muhammad ‘Alawi al-Maliki, al-Manhal al-Latîf  fi Ushŭl al-Hadits al-Syarif, (Jeddah: Sahr, 1986), hal. 8.
[5] Ibid.
[6] Musthafa al-Syiba’i, al-Sunnah wa Makănatuhu, (Kairo: Dâru al-Salăm, 2008), hal. 58.
[7] Muhammad ‘Ajaz al-Khotib, Ushûl al-Hadits, hal. 28
[8] Ibid.

  • 1
    Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.