kualitas hadits

Daftar Lengkap Aspek Kuantitas dan Kualitas Hadits

Diposting pada 489 views

Almursi – Semua hadits yang berasal dari Rasul dapat ditinjau dalam dua aspek, yaitu kuantitas dan kualitas hadits.

Aspek kuantitas mengarah pada jumlah rawi yang meriwayatkan.

Sedang aspek kualitas mengarah pada maqbul tidaknya suatu hadits.

Jika menilik kuantitas, hadits terbagi menjadi dua, yaitu mutawattir dan ahad.

Sedang dari kualitas, hadits terbagi menjadi tiga, yaitu shahih, hasan, dan dha’if.

Pembagian yang terakhir ini berlandaskan pada aspek sanad, matan dan rawi, tanpa memandang jumlah periwayat secara spesifik.

Kuantitas Hadits

Sebagaimana dikemukakan di atas, kuantitas hadits terbagi menjadi mutawattir dan ahad. [1]

  1. Hadits muttawattir: yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak di mana dengan jumlahnya tersebut menyebabkan mereka tidak mungkin berdusta.
  2. Hadits ahad: adalah hadits yang jumlah rawinya tidak memenuhi syarat dalam penyebutan hadits mutawatir.

Hadits ahad terbagi lagi menjadi tiga, yaitu hadits masyhur, hadits ‘azĭz dan hadits gharib. [2]

  1. Hadits masyhur: hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih yang jumlah rawinya tidak mencapai pada batasan rawi mutawattir dalam satu rangkaian sanad.
  2. Hadits ‘azĭz: yaitu hadits yang jumlah rawinya minimal dua orang dalam satu rentetan sanad.
  3. Hadits gharib: yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang rawi dalam satu rentetan sanad.

Kualitas Hadits

Kualitas hadits dapat ditelurusi dari tiga jenis, yaitu shahih, hasan, dan dhoif. Adapun pembahasannya dijabarkan sebagaimana berikut:

1. Hadits Shahih

Yaitu hadits yang sanadnya bersambung yang mana rawinya bersifat adil dan mundhabit, sertahadits tersebut tidak syadz dan tidak mengandung ‘illat.[3]

Sanad yang bersambung maksudnya yaitu silsilah periwayatan hadits dimulai dari rawi yang paling pertama terus bersambung sampai pada rawi yang paling terakhir.

Adil maksudnya semua rawi yang ada dalam sanad tersebut semuanya adalah muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan tidak rusak muru’ahnya.[4]

Dhabit maksudnya kualitas rawi yang mampu menjaga hadits yang ia terima (baik melalui tulisan di mana ia dapat menjaga teks tanpa ada perubahan, penambahan ataupun pengurangan, serta tidak bertentangan denga teks hadits lain yang sama. Ia juga dapat menjaganya lewat hapalan yang sangat kuat. Dan memahami isinya dengan baik. [5]

Tidak syadz berarti bahwa periwayatan hadits yang tidak bertentangan dengan rawi lain yang lebih tsiqah (terpercaya).[6]

Tanpa ‘illat maksudnya terhindar dari sebab-sebab yang sangat samar yang sekiranya membuat hadits tersebut dianggap cacat.[7]

Kemudian hadits shahih dibagi menjadi dua bagian yaitu shahih li dzătihi dan shahih li ghairihi.

  1. Hadits shahih li dzătihiyaitu hadits yang telah memenuhi syarat-syarat di atas.
  2. Hadits shahih li ghairihi: pada hakikatnya adalah hadits hasan, akan tetapi karena beberapa hal, kemudian hadits tersebut layak dikategorikan menjadi hadits shahih.

Beberapa faktor yang menyebabkan hadits hasan menjadi hadits shahih diantaranya: [8]

  • Hadits hasan tersebut dibarengi oleh hadits semisal lain yang lebih unggul.
  • Diriwayatkan oleh banyak rawi yang mengeluarkan hadits yang sama.

2. Hadits Hasan

Hadits hasan, ditinjau dari segi istilah, tidak jauh berbeda dengan hadits shahih.

Akan tetapi hadits ini memiliki perbedaan dalam segi dhabit tidaknya sang rawi yang ada dalam rentetan sanad.

Artinya sebagian atau semua rawinya kurang menguasai hadits baik melalui tulisan ataupun hapalan.[9]

Dengan kata lain, sanad hadits ini bersambung, tidak syadz, tidak mengandung ‘illat, hanya saja rawinya bersifat adil namun tidak mundhabit.

Senada dengan hadits shahih, hadits hasan juga dibagi menjadi dua, yaitu hasan lidzătihi dan hasan li ghairihi.

  1. Hadits Hasan li dzătihiyaitu hadits yang telah memenuhi syarat, sebagaimana telah dikemukakan di atas.
  2. Hadits hasan li ghairihipada dasarnya adalah hadits dha’if, akan tetapi karena beberapa pertimbangan, kemudian ia layak dianggap sebagai hadits hasan.

Penetapan hadits hasan li ghairihi  terjadi bukan karena rawinya pelupa, banyak melakukan kekeliruan, atau karena fasik. Akan tetapi karena faktor hapalan rawi yang buruk, tidak dikenal identitasnya, atau sengaja menyembunyikan kecacatan hadits. Kemudian hadits ini meningkat menjadi hasan li ghairihi  karena dibantu oleh keterangan hadits lain yang senada, semisal maknanya, atau karena banyak yang meriwayatkannya. [10]

3. Hadits Dha’if

Hadits dha’if merupakan hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat disebutnya hadits hasan.

Artinya ia disebut dha’if karena masih terdapat kejanggalan dalam proses periwayatan hadits.

Setelah dibayangkan, ternyata ada dua hal pokok yang menyebabkan hadits menjadi hadits dha’if.

Diantaranya yaitu terdapat rawi yang hilang dalam sanad, serta karena cacatnya sang rawi, dalam artian sifat adil dan kualitas dhabitnya masih dipertanyakan.[11]

Kategori hadits yang didasarkan atas putusnya sanad dipilah menjadi dua bagian, yaitu hadits yang sanadnya putus secara jelas, dan hadits  yang sanadnya terputus secara samar.

Sedangkan hadits yang secara nyata sanadnya terputus meliputi:[12]

  1. Munqathi’: Hadits yang sanadnya terputus dimanapun letaknya
  2. Mu’allaq: Seorang rawi atau lebih yang dibuang pada Permulaan sanad
  3. Mursal: Seorang rawi (dari kalangan sahabat) yang dibuang pada akhir sanad
  4. Mu’dhal: Hadits yang jumlah rawinya lebih dari dua orang yang dibuang secara berturut-turut dalam rentetan sanad.

Sedangkan hadits sanadnya terputus secara samar terbagi menjadi dua yaitu:[13]

  1. Mudallas: Hadits yang memang di dalamnya terdapat rawi yang disembunyikan dengan tujuan agar cacatnya hadits tidak diketahui. Meski secara zhahir hadits itu tampak muttasil namun setelah diteliti secara mendalam ternyata sanadnya terputus.[14]
  2. Mursal khafi: Rawi yang meriwayatkan hadits dari seorang syekh atau guru yang pernah dijumpainya dan hidup satu masa akan tetapi rawi tersebut tidak pernah sama sekali menerima hadits darinya. Sedang dalam meriwayatkannya ia selalu menggunakan perkataan yang memungkinkan dirinya seolah-olah telah menerima hadits dari seorang syekh yang bersangkutan.

Kategori hadits dha’if yang ditinjau dari aspek cacatnya rawi ditimbulkan oleh beberapa sebab. [15]

Diantaranya karena cacatnya sifat adil rawi yang bersangkutan, di mana dia secara nyata melakukan kedustaan, dituduh berdusta, fasiq, melakukan bid’ah, atau karena dirinya dianggap samar yang disebabkan karena keberadaan dan perilaku kepribadiannya tidak jelas.

Di samping itu, hal lain yang menjadi penyebab hadits dha’if yaitu kurang menguasainya, baik melalui hapalan ataupun melalui catatan.

Adapun hadits dha’if yang disebabkan oleh cacatnya sifat adil rawi antara lain:[16]

  1. Maudhu’: Hadits yang rawinya berbohong ketika meriwayatkan hadits.
  2. Matruk: Rawinya dituduh melakukan kedustaan dalam meriwayatkan hadits.
  3. Munkar: Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang banyak melakukan kekeliruan, pelupa, atau bahkan karena dianggap fasiq.
  4. Mu’allal: Hadits yang di dalamnya terdapat kecacatan (illat) yang merusak kebenaran hadits. Namun secara zhahir hadits tersebut tampak terhindar dari cacat.

Hadist Musytaraq

Suatu hadits disebut musytaraq apabila hadits tersebut mengandung tiga kemungkinan, yaitu shahih, hasan, dan dha’if.

Hadits yang musytaraq dapat diuraikan sebagaimana berikut:[17]

  1. Musnad: Hadits yang bersambung sanadnya yang disandarkan kepada Nabi.
  2. Muttasil: Haidits yang bersambung sanadnya baik hadits tersebut berupa hadits mar’fu maupun mauquf.
  3. Marfu’: Hadits yang secara khusus disandarkan kepada Rasul baik berupa perkataan, perbuatan ataupun persetujuannya dengan menggugurkan kalangan sahabat maupun tabi’in.
  4. Mu’an’an: Hadits yang rentetan sanadnya terdapat kata عنyang menghubungkan suatu rawi dengan rawi lainnya.
  5. Muannan: Hadits yang sanadnya terdapat kata ان yang menghubungkan suatu rawi dengan rawi lainnya.
  6. Mu’allaq: Hadits yang jumlah rawinya satu orang atau lebih yang terbuang secara berturut-turut dalam permulaan sanad (rawi paling terakhir).
  7. Mudraj: Hadits yang sanadnya terdapat perbedaan dengan hadits lain yang rawinya tsiqah, atau hadits yang matannya terdapat penambahan (kalimat) tanpa penjelasan lebih lanjut dari rawi yang bersangkutan.
  8. Masyhur: Hadits yang dalam rentetan sanadnya diriwayatkan oleh dua orang atau lebih, kemudian diriwayatkan kembali oleh banyak rawi dimana dengan jumlahnya tersebut mereka tidak mungkin berdusta.
  9. Mustafid: Ada yang memanggapnya sama dengan hadits masyhur. Ada juga yang membedakannya, yaitu pada hadits mustafid masing-masing rawi harus berjumlah sama dalam satu rentetan sanad, sedang dalam hadits masyhur tidak memiliki ketentuan kesamaan jumlah rawi.
  10. Gharib: Hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi dan tidak ada rawi lain yang meriwayatkan hadits yang sama selain dirinya.
  11. ‘Aziz: Hadits yang rawinya minimal dua orang dalam satu rentetan sanad. Kadang hadits ini disebut juga hadits masyhur.
  12. Mushahaf: Hadits yang di dalamnya (sanad/matan) terdapat perubahan kalimat yang justru berbeda dengan kalimat dalam hadits yang diriwayatkan oleh rawi tsiqah lainnya.
  13. Munqalib: Hadits yang lafadznya terbalik (dalam satu susunan kalimat) dan mengakibatkan perubahan makna.
  14. Musalsal: Periwayatan hadits di mana seorang rawi mengikuti sifat dan keadaan rawi sebelumnya serta meniru kondisi proses periwayatan yang mereka lakukan pada saat menyampaikan hadits.
  15. ‘Ali: Hadits yang jumlah rijalnya sedikit bila dibandingkan dengan hadits lain dengan tujuan memperbanyak jumlah hadits yang diriwayatkan.

 

________________

Referensi

[1] Tampaknya Dr. Muhammad Thahan berbeda pandangan dengan Dr. Wahab Khalaf melalui karyanya Ilmu Ushul al-Fiqh. Di mana dalam literatur tersebut ia membaginya dalam tiga kategori, yaitu hadits mutawattir, masyhur dan ahad. Dalam mendefinisikan hadits mutawattir mereka berdua memiliki pandangan yang sama. Sedang dalam hadits masyhur, Dr. Wahab Khalaf mendefinisikannya sebagai hadits yang diriwayatkan oleh satu orang sahabat atau lebih yang sekiranya tidak mencapai batasan mutawatir akan tetapi kemudian diriwayatkan kembali oleh sejumlah rawi yang mencapai batasan mutawattir. Ia menandaskan bahwa hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang sahabat atau lebih yang sekiranya tidak mencapai batasan mutawattir yang kemudian diriwayatkan kembali oleh jumlah rawi yang tidak mencapai bilangan mutawattir. Lihat Abdul Wahab Khalaf. Ilmu Ushul al-Fiqh (Kairo: Dăru al-Hadits, 2003), 45-56. Dan lihat pula karya Muhammad ‘Ajaz al-Khatib, Ushûl al-Hadits, (Bairut: Dâru al-Fiqr, 1979), hal. 301-302.
[2] Mahmud Thahan, Taysĭr Musthalah al-Hadits, (Surabaya, al-Hidayah, tt), hal. 19-28.
[3] Ahmad Muhammad Syakir, Al-Ba’its al-Hatsĭts (Bairut: Dăru al-Kitab, 1994), hal. 28.
[4] Mahmud Thahan, Taysĭr Musthalah al-Hadits, hal. 34.
[5] Muhammad ‘Ajaz al-Khotib, Ushûl al-Hadits, hal232.
[6] Mahmud Thahan, Taysĭr Musthalah al-Hadits, hal. 34.
[7] Ibid, hal. 35.
[8] Muhammad ‘Alawi al-Maliki, al-Manhal al-Latîf  fi Ushŭl al-Hadits al-Syarif,(Jeddah: Sahr, 1986), hal. 69.
[9] Muhammad ‘Ajaz al-Khotib, Ushûl al-Hadits, hal. 332.
[10] Fathur rahman, Iktisar Mushthalah al- Hadits, (Bandung: al-Ma’arif, 1974), hal. 136.
[11] Ibid, hal. 337
[12] Mahmud Thahan, Taysĭr Musthalah al-Hadits, hal. 69-77.
[13] Ibid, hal. 79-85.
[14] Perlu diketahui, dalam hadits mudallas terdapat tiga jenis tadlis. Pertama, tadlis isnad yaitu meriwayatkan hadits yang tidak pernah diterima dari seorang syekh dengan menggunakan kata-kata yang seolah-olah ia pernah menerimanya, akan tetapi orang tersebut sebenarnya pernah berguru dan menerima hadits lain dari syekh yang bersangkutan. Kedua, tadlis taswiyah yaitu menghilangkan rawi dhaif yang terhimpit diantara dua rawi yang adil dalam rentetan sanad. Ketiga, tadlis syekh yaitu meriwayatkan hadits dari seorang syeikh, akan tetapi nama syeikh tersebut disamarkan sehingga tidak dikenal. Lihat karya Mahmud Thahan, Ibid, hal. 79-82.
[15] Ibid, hal. 88-89.
[16] Ibid, hal. 89-99.
[17] Muhammad ‘Azaz al-Khatib, Ushul al-Hadits, hal. 355-375.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.