wanita yang haram dinikahi

Daftar Wanita yang Haram dinikahi dalam Islam

Diposting pada 457 views

Almursi – Pernikahan merupakan ikatan suci yang telah digariskan oleh Tuhan.

Melalui tali pernikahan, kelangsungan hidup manusia akan terus berjalan.

Disamping itu, hubungan silaturahim antar manusia dapat terjalin erat.

Mengingat pernikahan cukup urgent, Islam mengatur tatacara pelaksanaannya.

Agar manusia tidak berbuat seperti hewan.

Dengan menjalin hubungan bersama orang yang dikasihinya, tanpa peduli siapa dan apa status calon pasangannya.

Atas dasar ini, saya uraikan daftar wanita yang haram dinikahi.

Dalam hukum, ada dua jenis keharaman dalam menikah.

Pertama, haram selamanya. Kedua, haram sementara.

Seorang pria tidak memiliki peluang sedikit pun mengawini wanita yang haram dinikahi selamanya. Berbeda dengan wanita yang haramnya bersifat sementara, dengan catatan, jika sebab-sebabnya hilang.[1]

Dalil tentang wanita yang haram dinikahi

Ketentuan haramnya menikahi wanita tertentu dapat kita simak dari ayat al-Qur’an berikut:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). – QS. An Nisa:22

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. – QS. An Nisa:23

Haram selamanya

Berdasarkan ayat di atas, ada tiga golong wanita yang tidak boleh dinikahi selamanya.[2]

Pertama, karena nasab (keturunan). Kedua, karena mushaharoh (Pernikahan). Ketiga, karena radha’ah (susuan).

Wanita muhram karena nasab yaitu:

  1. Ibu dan nenek kandung ke atas
  2. Anak  dan cucu perempuan ke bawah
  3. Saudari perempuan
  4. Bibi (Saudari ayah/ibu)
  5. Keponakan

Wanita muhram karena pernikahan diantaranya:

  1. Ibu mertua, nenek mertua ke atas
  2. Menantu wanita
  3. Anak tiri, cucu tiri ke bawah
  4. Ibu tiri

Berikut wanita muhram karena susuan:

  1. Ibu susuan
  2. Saudari susuan (anak dari ibu susuan)
  3. bibi susuan (saudari dari ibu susuan)

Haram sementara

Dalam syariat islam, terdapat beberapa wanita yang sementara haram di nikah.

Hal ini disebabkan oleh faktor penghalang.

Bila faktor tersebut hilang, maka hukum keharaman menikah berubah.

Berikut daftarnya:

1. Saudari ipar

Yaitu saudari istri. Jika istri wafat, atau menceraikan istri hingga idahnya habis, maka saudari ipar boleh dinikahi.

2. Istri orang lain

Jika istri orang lain in bercerai dengan suaminya, dan habis masa iddahnya (masa tunggu), maka ia boleh dinikah.

Iddah ini berlaku untuk memberi kesempatan suami rujuk (kembali) ke istrinya.

3. Wanita yang masih dalam masa iddah

Jika masa iddahnya habis, maka boleh dinikahi.

4. Mantan istri yang di talak tiga

Mantan istri yang ditalak tiga tidak boleh dinikahi kembali. Kecuali jika ia menikah dengan laki-laki lain, disetubuhi oleh suaminya yang baru, kemudian bercerai dan masa iddahnya habis, maka ia boleh dinikahi kembali.

5. Wanita yang dalam keadaan ihram

Wanita yang sedang beribadah ihram haji atau umrah tidak diperkenanankan dinikahi, kecuali jika telah selesai.

6. Budak wanita

Maksudnya, menikahi budak padahal masih mampu menikahi wanita merdeka. Kecuali jika tidak mampu, maka hal ini diperbolehkan.

7. Wanita musyrik

Tidak diperbolehkan menikahi wanita penyembah berhala, api, pohon dan sejenisnya hingga ia memeluk agama Islam.

8. Wanita pezina 

Menikahi wanita pezina dilarang bagi orang-orang mukmin, kecuali jika wanita tersebut bertaubat.

Larangan dalam poligami

Dalam poligami, seorang muslim hanya diperkenankan menikahi maksimal 4 orang wanita.

Tidak LEBIH.

Lihat surat an-Nisa, ayat 3 berikut:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Disamping itu, ia juga tidak diperkenankan menikahi 2 wanita / lebih yang memiliki ikatan nasab yang sangat dekat.

Larangan ini diantaranya:

  1. Menikahi wanita kakak beradik.
  2. Menikahi wanita dan bibinya.

Larangan sebab persetubuhan

Berdasarkan surat An-Nisa ayat 23, menikahi wanita yang memiliki anak menghasilkan dua kemungkinan hukum, yaitu:

  1. Haram menikahi anaknya jika sang ibu (istri) telah disetubuhi.
  2. Boleh menikahi anaknya jika sang ibu (istri) telah ditalak, namun belum disetubuhi.

Larangan karena sumpah

Ada satu lagi yang belum di bicarakan dalam ayat di atas, yaitu larangan menikahi kembali mantan istri yang telah di jatuhi sumpah Li’an.[3]

Yaitu sejenis sumpah untuk membebaskan diri dari tuduhan zina.

Perhatikan ayat berikut:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِن كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu adalah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah se-sungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atas-nya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” [An-Nuur: 6-9]

Gambarannya…

Seorang suami menuduh istrinya telah melakukan zina dengan pria lain.

Di lain pihak, istrinya membantah tuduhan terebut.

Sehingga masing-masing yang berseteru melakukan sumpah lian, atau sumpah untuk saling melaknat.

Jika hal ini dilakukan, maka secara otomatis terjadi cerai selamanya.

Dalam artian, mantan suami selamanya tidak boleh menikahi kembali mantan istri yang ia tuduh.

 

_________________

Referensi

[1] Sayyid Sabiq, Fiqh al-sunnah, juz 2, hlm: 85 – 96

[2] Muhammad Ali As-Shobuni, Tafsir Ayat al-Ahkam, Darul Kutub al-Islamiyyah, Juz 1 , Jakarta, 2001. hlm: 358 -359

[3] Ibid, juz 2, hlm: 62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.