pengertian sunnah

Pengertian Sunnah Menurut Para Ulama Hadits, Fiqih, Ushul dan Mauidzhah

Pengertian sunnah ,- Kata ”Sunnah” berasal dari Bahasa Arab (Sunnah), dari akar kata “sanna” (سن) yang diartikan  “berlakunya sesuatu dengan mudah.”[1]

Atau dapat dikatakan bahwa sesuatu itu berulang-ulang sehingga menjadi  pedoman  atau kaedah.

Menurut `Alî Hasan `Abd al-Qâdir[2] kata “Sunnah” itu sudah ada dan  terkenal sejak zaman Jahiliyah yang diartikan “jalan yang lurus dalam kehidupan baik secara individu maupun kolektif, tradisi Arab, dan yang sesuai dengan tradisi pendahulunya.” Ia bukan ciptaan umat Islam, kemudian muncul pada akhir abad kedua Hijriyah atas prakarsa Imam al-Syâfi`î yang menyalahi istilah lama dengan  arti Sunnah Rasul. [3]

Pendapat di atas tidak selalu benar, karena sekalipun kata “Sunnah” sudah ada sejak sebelum Islam sebagaimana disebutkan di berbagai syair Arab, tetapi tidak menunjukkan termin animisme Jahiliyah.

Kata “Sunnah” berasal dari bahasa Arab kemudian dipakai dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW. Jadi para ulama mengambil kata “Sunnah” dari bahasa Arab dan dari al-Qur’an dalam arti yang lebih spesifik dari arti etimologi semula, yaitu praktek pengamalan agama yang sudah menjadi kebiasaan baik oleh Nabi atau para sahabatnya sesuai dengan petunjuk al-Qur’an.[4]

Sunnah dalam arti di atas sudah dikenal sejak awal Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa Hadis. Di antaranya, misalnya sabda Nabi SAW :

فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ

“…Ikutilah Sunnahku dan Sunnah  Khulafâ  al-Râsyidîn  yang  mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi graham.” (HR.Abû Dâwûd, al-Turmudzî, dan al-Nasâ ’î dari al-`Irbadl bin Sâriyah)[5]

Menurut analisis Mushthafâ al-A`zhamî, bahwa pendapat `Alî Hasan `Abd al-Qâdir di atas merupakan pengulangan pemikiran Goldziher dan Shacht. Pemikiran mereka yang mengatakan bahwa kata “Sunnah” yang dipakai dalam Islam termin watsanî[6] adalah kesimpulan yang tak berdasar dan  bertentangan dengan fakta yang ada.

Penggunaan kaum Jahiliyah dan Animisme Arab pada suatu kata yang dipahami dalam makna etimologi tidak mempunyai pengaruh tertentu  dan tidak bisa diklaim sebagai makna termin watsanî. Kalau tidak, maka semua bahasa Arab menjadi termin watsani seluruhnya dan ini tidak dibenarkan logika. [7]

Sementara itu, Syekh Muhammad Rasyîd Ridlâ dan Syekh Mahmud Syaltût menyebutkan bahwa sebagian peneliti mengasumsikan bahwa kata “Sunnah” diambil dari kata “ Misynah” berasal dari bahasa Ibrani yang diartikan sekumpulan periwayatan Isrâilîyât yang dijadikan sebagai penafsiran atau interpretator terhadap kitab Taurat dan menjadi referensi hukum yang dipedomani oleh orang-orang Yahudi. Kemudian kata “Misynah” itu di-Arabkan oleh umat Islam menjadi “Sunnah” yang diartikan sekumpulan periwayatan tentang sesuatu yang disandarkan kepada Muhammad dan dijadikan sumber hukum mereka seperti  yang  dilakukan  oleh kaum Yahudi.[8]

Dugaan di atas tak beralasan, karena umat Islam awal tidak mengartikannya sebagai sekumpulan periwayatan Nabi Muhammad SAW.

Pada waktu itu Sunnah diartikan praktek pengamalan al-Qur’an yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabat sebagaimana keterangan di atas.

Sunnah diartikan sekumpulan periwayatan Nabi Muhammad SAW setelah kurang lebih seratus tahun kemudian dengan maksud periwayatan  Hadis yang  telah  terhimpun dari para saksi   untuk   dikodifikasikan. Di samping penamaan Sunnah dari Rasul sendiri bukan dari ulama. Hal ini tercermin dalam beberapa Hadis yang perintah mengikuti Sunnah beliau.

Misynah bagi orang Yahudi memang benar sebagai interpretator terhadap kitab Taurat, tetapi ia merupakan karya pendeta-pendeta mereka yang berkapasitas tidak sebagai Nabi, bahkan mereka meninggalkan teks asli kitab Taurat. Demikian juga jika dilihat dari segi etimologis maupun historis tidak ada kemiripan antara dua kata tersebut dan tidak ada pertemuan antara Yahudi dan  Arab  sebelum Islam  dalam berbagai aspek, baik dalam budaya, sosial, tradisi, dan keagamaan.[9]

Dengan demikian, jelas bahwa kata “Sunnah” dalam arti yang spesifik di atas yaitu perjalanan Nabi dan para sahabat dalam praktek pengamalan al-Qur’an berasal dari bahasa Arab, bukan dari bahasa Ibrani sebagaimana asumsi sebagian peneliti. Ia telah ada sejak awal Islam, bahkan  sudah  tenar  di kalangan  masyarakat  Islam awal, sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadis. Untuk  lebih jelasnya berikut ini dijelaskan secara terperinci pengertian Sunnah secara etimologis.

Arti Sunnah menurut bahasa

Dari segi etimologi kata “Sunnah” mempunyai beberapa arti, yaitu sebagai berikut:

A. Perjalanan, prilaku, dan tatacara (ﻭﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﺴﲑﺓ)

Perjalanan itu baik atau buruk, misalnya kata Khâlid bin `Utbah al-Hadzali dalam syairnya:

فلا تجزعن عن سيرة انت سرتها # فأول راض سنة من يسرها

“ Jangan engkau merasa risau pada perjalanan hidup (sunnah) yang telah engkau lakukan. Maka  pertama kali   orang yang puas dengan perjalanan hidupnya adalah orang yang melakukannya. ”[10]

Allah berfirman dalam al-Qur’an sebagai berikut :

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“ Allah hendak menerangkan ( hukum syariat-Nya ) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu ( para nabi dan shalihin)…” (QS. Al-Nisâ ’/ 4: 26).

Kata “ Sunan” dalam ayat tersebut dalam bentuk plural dari kata “Sunnah” (Sunnah). Menurut Ibn Katsîr, kata tersebut berarti  “tatacara  orang-orang dahulu yang terpuji dan mengikuti syariat Allah yang mendapat dirida dari pada-Nya.”[11]

Dalam Hadis Rasulullah SAW bersabda :

من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا

 “ Barang siapa yang membuat suatu jalan (Sunnah) yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang melakukan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang membuat suatu jalan (Sunnah) yang buruk dalam Islam, maka atasnya dosanya dan dosa orang yang melakukan setelanya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. ” (HR.Muslim)[12]

Hadis di atas menganjurkan berbuat Sunnah yang baik dan menjauhi Sunnah yang buruk. Sunnah di sini diartikan memulai berbuat jalan yang baik atau yang buruk, untuk diikuti orang lain. Jadi makna Sunnah secara etimologis dapat diartikan jalan yang baik atau terpuji sebagaimana perjalanan Nabi SAW atau diartikan jalan yang baik atau buruk sebagaimana yang dilakukan oleh umumnya manusia.

B. Karakter / tabiat

Sebagaimana kata al-A`syâ sebagai berikut :

كريم شمائله من بنى # معاوية الأكرمين السنن

“ Dia seorang yang mulia sifat-sifatnya, Dari Banî Umaîyah yang mulia karakternya. ”[13]

Pemaknaan Sunnah di sini bukan sekedar jalan atau tatacara saja, tetapi ia sudah menjadi karakter dan sikap, seolah kata Sunnah sudah menjadi akhlak.

C. Wajah, gambar, dan rupa

Misalnya:  

هوأشبه شيئ به سنة

Artinya : “Ia sesuatu yang lebih mirip dengannya dalam wajah dan gambarnya.”

Keterkaitan makna ini dengan Sunnah Nabi adalah gambaran esensi Sunnah menjadi  suatu  tujuan  yang  amat penting atau Sunnah memiliki gambar dan corak tersendiri yaitu terbimbing dengan wahyu.

D. Tradisi suatu pekerjaan

Menurut  al-Kisâî (w.189  H) makna “Sunnah” adalah “kekal atau (ﺍﻟﺪﻭﺍﻡ).

Kata sunnah berarti perintah langsung secara terus menerus, Membiasakan sesuatu secara Continue.[14]

سننت الماء إذا واليت في صبه

“ Engkau  menuang air secara terus temerus,  jika engkau menuangnya secara terus menerus.”

Penuangan air secara terus menerus dan langgeng dengan cara tertentu ini disebut “Sunnah” secara etimologi. Pemaknaan Sunnah di sini  disyaratkan pengulangan atau sosialisasi suatu pekerjaan sehingga menjadi tradisi. Jikalau suatu pekerjaan dilakukan hanya satu kali atau dua kali, menurut pengertian ini belum dikatakan Sunnah. Makna ini merupakan proses untuk mencapai makna Sunnah yang kedua di atas yaitu yang diartikan karakter dan tabiat.

Dari berbagai uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa arti Sunnah secara lughawî mempunyai arti banyak di antaranya ; perjalanan atau tatacara baik atau buruk, corak, karakter, dan tradisi.

Makna lughawî ini menjadi sangat penting untuk membedakan dengan makna terminologi dan sekaligus untuk menolak pemutar balikan makna suatu istilah yang sudah menjadi konsensi terminologis para ulama tertentu. Seperti yang dilakukan oleh Muhammad Musytaharî ketika mengakui Sunnah, dimaksudkan ”tradisi orang-orang dahulu sesuai ungkapan al-Qur’an.”[15]

Seperti « Sunnat al-awwalîn = Sunnah (trdasisi) orang-orang dahulu atau Sunan man qablana = Sunnah (tradisi) orang-orang sebelum kami . » Pemberian suatu makna harus jelas apakah yang dimaksud makna lughawî atau istilah-i, agar tidak terjadi kesalah pahaman arti.

Pengertian Sunnah Menurut Istilah

Para ulama berbeda pendapat dalam memberikan pengertian Sunnah  secara istilah (terminologi), sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki.

Pengetian Sunnah menurut Ulama Hadis berbeda dengan pengertian Sunnah menurut ulama Fikih. Demikian juga menurut ulama Ushûl Fikih dan ulama maw`idzah.

Berikut ini akan dikemukakan perbedaan definisi Sunnah menurut berbagai ulama dalam disiplin ilmu tertentu :

A. Pengertian sunnah menurut ulama Hadits

ﻛﻞ ﻣﺎ ﺃﺛﺮ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﱮ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﹼﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺃﻭ ﻓﻌﻞ ﺃﻭ ﺗﻘﺮﻳﺮ ﺃﻭ ﺻﻔﺔﺧﻠﻘﻴﺔ ﺃﻭ ﺧﻠﻘﻴﺔ ﺃﻭ ﺳﲑﺓ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺒﻌﺜﺔ ﻛﺘﺤﻨﺜﻪ ﰱ ﻏﺎﺭ ﺣﺮﺍﺀ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻫﺎ

“ Segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat baik sifat pisik atau sifat perangai (akhlak), dan atau sejarah, baik sebelum diangkat menjadi Rasul seperti menyendiri beribadah di dalam Gua Hirâ atau sesudahnya.”[16]

Sunnah menurut ulama  Hadis  tersebut  adalah  sinonim  Hadis  yang memiliki akumulasi makna yang lebih luas  yaitu  perbuatan,  perkataan, pengakuan, sifat, dan sejarah Nabi SAW baik sebelum diangkat menjadi rasul atau sesudahnya, baik  dapat dijadikan sebagai dalil syarak atau  tidak. 

Mayoritas mereka memasukkan biografi dan prilaku Nabi sebagai Sunnah, sekalipun sebelum diangkat menjadi rasul. Hal ini didasarkan pada sifat kejujuran, amanah,  dan  akhlak beliau yang mulia sejak kecil yang secara signifikan dapat  dijadikan  dalil atas kenabian beliau.83

Berbeda dengan `Abd al-Muhdî yang berpendapat bahwa sejarah Muhammad sebelum diangkat  menjadi Rasul  tidak  dapat  dikategorikan ke dalam Sunnah, terkecuali jika didengar atau ditetapkan beliau sendiri setelah diangkat menjadi Rasul.[17]

Dengan demikian, batas Sunnah Nabi SAW dimulai dari sejak turunnya wahyu. Sedangkan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul, jika disabdakan beliau kembali atau dikatakan orang lain yang mendapat pengakuan beliau setelah menjadi Rasul, maka dapat disebut dengan Sunnah.

Kedua pendapat di atas kiranya dapat diambil titik temu, bahwa keduanya sama-sama menerima dan mengakui sejarah beliau sebelum kenabian sebagai Sunnah, jika keadaannya memperkuat kenabian beliau. Hanya perbedaan yang diperdebatkan terletak pada masa kenabian.

Apakah kejadian sejarah itu diungkapkan lagi Nabi sendiri atau oleh sahabat yang dibenarkan beliau setelah masa kenabian ataukah tidak ?.

Pendapat yang kedua (diungkapkan pada masa kenabian) lebih kuat, mengingat definisi Sunnah dari berbagai kalangan ulama yang akan dipaparkan nanti selalu menyandarkannya kepada Nabi atau Rasul SAW bukan kepada Muhammad sebelum menjadi Rasul, bahkan oleh para ulama Ushûl al-Fiqh ada catatan yang dapat dijadikan dalil sumber hukum syarak.

B. Pengertian sunnah menurut ulama Ushûl al-Fiqh

ﻛﻞ ﻣﺎ ﺻﺪﺭ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﱮ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﹼﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﹼﻢ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺃﻭ ﻓﻌﻞ ﺃﻭ ﺗﻘﺮﻳﺮ ﳑﺎ ﻳﺼﻠﺢ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺩﻟﻴﻼ ﳊﻜﻢ ﺷﺮﻋﻲّ

“ Segala sesuatu yang   disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, dan pengakuan yang patut dijadikan dalil hukum syarak. ”[18]

Definisi ini menunjukkan bahwa Sunnah adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi SAW   dan patut dijadikan dalil hukum syarak   seperti hukum wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Jikalau ia tidak syah dijadikan dalil sumber hukum maka tidak disebut Sunnah, seperti duduk, berdiri, jongkok, berjalan, dan lain-lain yang dilakukan beliau yang tidak berkait dengan hukum.

C. Pengertian sunnah menurut ulama Fikh

Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai antonim dari hukum fardu dan hukum syarak lain, yaitu sebagai berikut:

ﻣﺎ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻭﻻﻳﻌﺎﻗﺐ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻛﻬﺎ

“ Sesuatu yang diberi pahala pekerjanya dan tidak disiksa bagi yang meninggalkannya.”[19]

Sunnah menurut definisi ini bersinonim dengan mandûb, mustahabb,  tathawwu`, dan nâfilah yang merupakan sifat perbuatan  mukallaf  yang  dituntut oleh syarak secara lunak bersifat anjuran.[20]

D. Pengertian sunnah menurut ulama Maw`izhah :

ﻣﺎ ﻭﺍﻓﻘﺖ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﳊﺪﻳﺚ ﻭﺇﲨﺎﻉ ﺍﻷﻣﺔ ﻣﻦ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﻭﻋﺒﺎﺩﺍﺕ ﺃﻭ ﻣﺎ ﻗﺎﺑﻞ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ

“ Sesuatu yang sesuai dengan Kitab al-Qur’an, Hadis, dan Ijmak para ulama baik dari itikad atau ibadat, atau sesuatu yang menjadi lawan dari bid`ah. ”

Definisi Sunnah di sini fokusnya adalah perbuatan yang sesuai dengan perbuatan Nabi atau sesuai dengan petunjuk syarak baik dari al-Qur’an, Hadis, dan ijtihad para sahabat yang kemudian disebut dengan Sunnah Râsyidah.[21]

Seperti pengkodifikasian al-Qur’an, salat Tarawih 20 rakaat, dan lain-lain, sebagaimana sabda Nabi SAW yang telah disebutkan pada penjelasan di atas tentang  perintah  Nabi mengikuti Sunnah beliau dan Sunnah para Khulafâ al-Râsyidîn . Sebaliknya segala sesuatu yang berlawanan di atas bukan Sunnah akan tetapi bid`ah.

Baca juga:

Analisa Pengertian Sunnah

Memang terjadi perbedaan antara para ulama yang berbeda disiplin ilmu dalam memberikan pengertian Sunnah. Kalau dicermati dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perbedaan itu disebabkan antara lain sebagai berikut :

1. Perbedaan obyek dan tujuan yang mereka hadapi

Para ulama Hadis perhatiannya lebih bersifat transmitif yakni periwayatan yang disandarkan kepada Nabi SAW, ulama Ushûl al-Fiqh perhatiannya lebih ditekankan pada dalil-dalil syarak, ulama Fikh perhatiannya pada hukum syarak yang lima yaitu wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah, dan ulama Maw`izhah perhatiannya lebih pada larangan dan perintah syarak.102

2. Perbedaan pandangan dalam melihat peran Nabi SAW

Ulama Hadis melihat Nabi SAW sebagai seorang pemimpin yang mendapat petunjuk yang layak dijadikannya sebagai teladan yang baik (uswah hasanah), karenanya mereka melihat jangkauan Sunnah lebih  luas  baik  dijadikan sebagai dalil hukum syarak atau tidak.

Ulama Ushûl al-Fiqh melihat Nabi SAW sebagai pembawa dan pembuat syariat yang meletakkan dasar-dasar ijtihad bagi para mujtahid berikutnya.

Ulama Fikh melihat segala perbuatan Nabi SAW tidak keluar dari hukum syarak, apakah itu wajib, haram. mubah, makruh, dan sunnah.

Demikian juga ulama Maw`izhah melihat Nabi SAW sebagai pembawa dan penyampai wahyu dari Allah yang harus ditaati, sedang penulis modern memandangnya sebagai sosok manusia pengamal al-Qur’an.

3. Perbedaan dalam melihat esensi Sunnah

Ulama Ushûl al-Fiqh melihat Sunnah sebagai dalil syarak dan sebagian dari sumber Fikh, sedang ulama Fikh melihatnya sebagai sifat mukallaf, ulama Hadis memandangnya sebagai sumber prilaku hidup seorang muslim, ulama Maw`izhah melihatnya sebagai wahyu dari Allah yang harus dipedomani untuk kemaslahatan dan kebahagiaan dunia akhirat.


[1] Abî al-Husayn Ahmad bin Fâris bin Zakariyâ (Ibn Fâris w. 395), al-Maqâyîs fî al-Lughah, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), Cet. Ke-1, h. 474

[2] `Alî Hasan `Abd al-Qâdir adalah salah seorang mantan guru besar al-Azhar dan  Dekan Fakultas Syariah. Sarjana ini telah menyandang doktor dari Jerman dan mengajar Mata Kuliah Sejarah Perundang-undangan Islam dan Sejarah Sunnah di al-Azhar. Pengajarannya menggunakan teori Studi Goldziher (seorang orientalis yang telah meneliti Hadis dan berkesimpulan keraguan otentisitasnya , w.1921 M) mengenai Hadis dalam, Muhammedanische Studien. Pada tahun 1940 ia menulis buku; Nazhrah `Ammah fî Tarîkh al-Fiqh al-Islamî, dalam buku ini banyak dimasukkan teori Goldziher atau terjemahan dari sebagian halamannya tanpa menyebutkan sumbernya. Lihat: Juynboll, The Authenticity  of the Tradition Literature…, h. 50-52, Abû Syahbah, Difâ` `an al-Sunnah, h. 273

[3] `Ali Hasan `Abd al-Qâdir (`Abd al-Qâdir), Nazhrah ‘Âmmah Fi Târîkh al-Fiqh al-Islamî,(Cairo: Maktab al-Sunnah, 1942), h. 122-123

[4] Mahmûd Syaltût (Syaltût), al-Islam ‘Aqîdah wa Syarî`ah, (Cairo: Dâr al-Qalam, 1966), Cet. Ke-3, h. 499

[5] Abû Dâwûd Sulaymân bin al-Asy`ats al-Sijistanî al-Azdî (al-Azdî Abû Dawûd w. 275 H), Sunan Abû Dawûd, Ed. al-Sayyid Muhammad Sayyid, et al., (Cairo: Dâr al-Hadîts, 1999), Juz 5, Kitâb al-Sunnah, Bab No. 6, h. 1974 , mereka mengatakan : “Hadis ini Shahîh” dan Abû Dâwûd mengatakan: “Hadis ini Hasan Shahîh”. Lihat: Abî `Îsâ Muhammad bin `Îsâ bin Sûrah, (Muhammad bin `Îsâ al- Turmudzî w.279 H), Sunan al-Turmudzî , Juz 4, No. 16, h. 469 dan Abî  Abd Allâh Muhammad bin  Yazid al-Qazwînî (al-Qazwînî Ibn Mâjah w. 275 H), Sunan Ibn Mâjah, Ed. Muhammad Fuâd Abd al- Bâqî, (Cairo: Dâr al-Hadîts, 1998), Cet. Ke-1, No: 6, h. 44-45

[6] Kata “watsanî” berasal dari kata “watsan” artinya “berhala” maksudnya, termin Jahiliyah  yang percaya berhala sebagai Tuhan (animisme).

[7] Muhammad Mushthafâ al-A`zhamî (al-A`zhamî ) salah seorang guru besar Hadis dan Ilmu Hadis Fakultas Tarbiyah Universitas King Saud Riyadl, ia banyak membaca buku-buku orientalis yang menyerang Hadis dan berhasil menangkis pikiran-pikiran mereka melalui penelitiannya yang  diajukannya ke Universitas Cambridge sebagai disertasi untuk meraih gelar doktor dalam Filsafat. Di antaranya ia berhasil mengkritik pemikiran Joseph Schacht (w. 1969 M)  yang menolak  keotentikan Hadis dan hasil penelitiannya diakui oleh Prof.A.J. Arberry, seorang tokoh orientalis terkemuka di Universitas Cambridge, Inggris pada tahun 1967 M. Kemudian pada tahun 1980 M/1400 H al-A`zhamî mendapat Hadiah King Faysal Internasional dalam Studi Islam. Lihat: al-A`zhamî, Dirâsât fî al-Hadîts al-Nabawî wa Târîkh Tadwînih, Juz 1, h. iv-v dan 6-7 dan Ali Mustafa Yaqub (Yaqub ), Kritik Hadis, (Jakarta: PT Pustaka Firdaus ,1995), Cet. Ke-1, h. 25- 27

[8] Syaltût, al-Islam ‘Aqîdah wa Syarî`ah. , h. 6 dan Rasyîd Ridlâ, “Tahqîq Ma`na al-Sunnah,” dalam al-Manâr, (Mesir: Mathba`ah al-Manâr, 1930, Jilid 9, Juz 30, h. 687

[9] `Adil Muhammad Muhammad Darwisy (Darwisy), Nazharât fî al-Sunnah wa `Ulûm al- Hadîts, (Jakarta: tp., 1998), Cet. Ke-1, h. 13-14

[10] Muhammad bin Mukram bin Manzhûr ( Ibn Manzhûr ), Lisân al-`Arab, (Beirut:Dâr al-Shâdir, 1990), Cet. Ke-1, Jilid 13, h. 225, Ibn Faris, al-Maqâyîs fî al-Lughah, h. 474 dan Ibrahim Anis, et.al. (Anîs), al-Mu`jam al-Wasîth, (Mesir: Mu`jam al-Lughah al-`Arabîyah, 1972), Cet. Ke-2, Juz 1, h. 456

[11]  Ibn Katsîr al-Dimasyqî al-Quraysyî (al-Quraysyî), Tafsîr al-Qurân al-`Azhîm, (Jeddah: al- Haramayn, t.th.) Juz 4, h. 192

[12] Muhy al-Dîn Abî Zakarîya Yahya bin Syaraf al-Nawawî (al-Nawawî w. 676 H),  Shahih Muslim bi Syarhi al-Nawawî, Takhrîj dan Ed. Muhammad Muhammad Nâshir, (Cairo: Dâr al-Fajr li al- Turâts, 1999), Cet. Ke-1, Jilid 1, h. 122, dan Jilid 8, h. 443

[13] Ibn Manzhûr, Lisân al-`Arab, h. 226 dan Anîs, et.al. al-Mu`jam al-Wasîth, Juz 1, h. 456

[14] Muhammad bin `Alî al-Syawkânî ( al-Syawkânî w. 1250 H), Irsyâd alFuhul ilâ Tahqîq al- Haq min `Ilmi al-Ushûl, (Beirut : Dâr al-Sya`ab al-`Ilmîyah, 1999), Jilid 1, h. 159, Jalâl al-Dîn `Abd al- Rahmân (`Abd al-Rahmân), al-Sunnah Ghâyah al-Wushûl ilâ Daqâ ’iq `Ilmi al-Ushûl, ( tt. : al-Dzahabî, 1999), Cet. Ke-1, h. 11, dan `Abd al-Khâliq, Hujjîyat al-Sunnah, h. 47.

[15] Muhammad Musytaharî salah seorang penulis kritikus Sunnah di berbagai koran Mesir . Pada tanggal 3 September 1999 berdiskusi dengan Syekh Abû Islam Ahmad `Abd Allâh (seorang ahli Ingkar Sunnah) dan ia memohon kepada Syekh agar tidak menuduhnya lagi sebagai pengingkar Sunnah. Akan tetapi permohonannnya itu tidak dikabulkan, karena dalam kesempatan yang berbeda ia masih selalu mencerca dan menghina Sunnah. Lihat: Ahmad Abd Allâh (ed.), Syubuhât wa Syathahât..., h. 247-248

[16] `Ajâj al-Khathîb, al-Sunnah Qabl al-Tadwîn, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1997), Cet. Ke-6, h. 18

[17]  `Abd  al-Muhdî  bin  Abd   al-Qâdir  (Ibn   Abd   al-Qâdir),  al-Madkhal  ilâ  al-Sunnah al- Nabawîyah, ( Cairo: Dâr al-I`tishâm, 1998), h. 42-43

[18] M. `Ajâj al-Khathîb, al-Sunnah Qabl a-Tadwîn, h. 18, Ahmad `Umar Hasyim, al-Sunnah al- Nabawîyah wa  `Ulûmuhâ , ( Cairo : Maktabah Gharîb, tth.), h. 17 dan  al-Mâlikî,   al-Manhal al-Lathîf…, h. 8. al-Syawkânî dan al-Syâthibî memberikan definisi Sunnah segala sesuatu yang datang dari Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, dan pengakuan. Lihat :  al-Syawkânî ( w.1250 H), Irsyâd al-Fuhûl …, Juz 1, h. 159-160, dan  Abî Ishâq al-Syâthibî   (al-Syâthibî w. 790 H), al-Muwâfaqât fî  Ushûl   al-Syarî`ah,   Ed. `Abd Allâh Darâz, et. al. (Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmîyah, tth.), Juz 4, h. 3.

[19] Muhammad Ibrâhîm al-Hafnâwî (al-Hafnâwî ), Dirâsât Ushûlîyah fi alSunnah al-Nabawîyah, (Mesir: Dâr al-Wafâ, 1991),Cet. Ke-1, h. 12.

[20] Sebagian ulama al-Syâfi`îyah membedakan antara istilah-istilah tersebut. Sunnah diartikan perbuatan yang selalu dikerjakan oleh Nabi SAW, Mustahabb tidak selalu dikerjakan beliau, Tathawwu` yang ditumbuhkan oleh mukallaf sendiri, pilihannya sendiri, dan tidak ada teks secara khusus yang menjelaskan hal itu. Sedang Mandûb dan Nâfilah lebih umum untuk semua itu. Lihat: Abd al-Khâliq, Hujjîyat al-Sunnah, h.53

[21] Ibn `Abd al-Qâdir, al-Madkhal ilâ al-Sunnah al-Nabawîyah…,, h. 32, dan Ibn `Abd al-Qâdir, al-Sunnah al-Nabawîyah, (Cairo : Dâr al-I’tishâm, tth.), h. 56

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *