oleh

Kupas Tuntas Pengertian, Hukum, Do’a dan Tata Cara Wudhu

-Hukum Islam-370 views

Wudhu, menurut bahasa, artinya bersih dan indah. Sedang menurut istilah syar’i, wudhu adalah proses menggunakan air pada anggota tubuh tertentu, dengan cara tertentu, yang diawali dengan niat, guna menghilangkan hadats kecil.

Wudhu merupakan syarat sahnya sholat. Orang yang hendak melaksanakan sholat, diwajibkan berwudhu lebih dulu.

Dalil Wudhu

Pelaksanaan wudhu telah diuraikan dalam al-Qur’an dan Hadits. Dalil wudhu yang termaktub dalam al-Qur’an dapat Anda lihat pada surat QS Al Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Ayat diatas kemudian jelaskan kembali oleh Rasulullah SAW dengan menambahkan amaliah-amaliah tertentu seperti berkumur, mengusap telinga, dan lain sebagainya. Adapun beberapa hadits nabawi yang dapat menjadi pedoman dalam berwudhu diantaranya:

Dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Atha’ bin Yazid al-Laitsi mengabarkan kepadanya

أَنَّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلَاة
Humran budak Utsman memberitakan kepadanya bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu meminta diambilkan air wudhu, kemudian dia berwudhu dengan membasuh kedua telapan tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian dia berkumur-kumur dan ber-istintsar (mengeluarkan air yang dihirup ke hidung, pent). Kemudian dia membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian dia membasuh tangan kanannya hingga siku sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh tangan kiri seperti itu pula. Kemudian dia mengusap kepalanya. Kemudian dia membasuh kaki kanannya hingga mata kaki sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh kaki kiri seperti itu pula. Kemudian Utsman berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu berwudhu seperti yang kulakukan tadi. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berwudhu seperti caraku berwudhu ini kemudian bangkit dan melakukan sholat dua raka’at dalam keadaan pikirannya tidak melayang-layang dalam urusan dunia niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” Ibnu Syihab mengatakan, “Para ulama kita dahulu mengatakan bahwa tata cara wudhu seperti ini merupakan tata cara wudhu paling sempurna yang hendaknya dilakukan oleh setiap orang.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah, diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam Kitab al-Wudhu’ dengan redaksi yang agak berbeda)
Dari Hammam bin Munabbih, dia berkata:
هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ ».
Ini adalah hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhukepada kami dari Muhammad utusan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia menyebutkan beberapa hadits, di antaranya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu maka hiruplah air dengan kedua lubang hidungnya kemudian keluarkanlah.”(HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)
Dari Utsman bin Abdurrahman at-Taimi berkata:
سُئِلَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْوُضُوءِ فَقَالَ رَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ سُئِلَ عَنْ الْوُضُوءِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَأُتِيَ بِمِيضَأَةٍ فَأَصْغَاهَا عَلَى يَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ أَدْخَلَهَا فِي الْمَاءِ فَتَمَضْمَضَ ثَلَاثًا وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَغَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَأَخَذَ مَاءً فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ فَغَسَلَ بُطُونَهُمَا وَظُهُورَهُمَا مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُونَ عَنْ الْوُضُوءِ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ
Ibnu Abi Mulaikah pernah ditanya mengenai wudhu, maka dia menjawab: Aku pernah melihat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu ditanya tentang wudhu. Maka beliau meminta diambilkan air. Lalu didatangkan kepadanya sebuah timba berisi air lalu dia ambil air itu dengan memasukkan tangan kanannya ke dalam air. Kemudian dia berkumur-kumur tiga kali dan beristintsar tiga kali. Lalu dia membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian dia membasuh tangan kanannya tiga kali dan membasuh tangan yang kiri juga tiga kali. Kemudian dia masukkan tangannya ke dalam timba itu dan mengambil air untuk mengusap kepala dan kedua daun telinganya. Dia membasuh (mengusap) bagian dalam kedua telinga itu dan bagian luarnya, dia melakukan itu hanya sekali. Kemudian dia membasuh kedua kakinya, lalu dia berkata, “Manakah orang-orang yang bertanya mengenai wudhu tadi? Demikian itu tadi cara berwudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aku saksikan.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan sahih oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [1/186] as-Syamilah)

Hukum Wudhu

Ada tiga kategori hukum wudhu yang saya bahas di sini. Ia bisa wajib, sunah, dan juga makruh. Pada dasarnya, wudhu mengikuti shalat yang hendak dikerjakan.

1). Wajib

Manakala seseorang hendak mengerjakan shalat, dan dirinya masih berhadats, maka wudhu adalah hal harus dikerjakan. Meski shalat yang akan ia tunaikan terbilang sunnah.

2). Sunnah

Berbeda alasan, berbeda pula hukumnya. Wudhu menjadi sunnah jika dilakukan bukan untuk menunaikan shalat, melainkan dalam hal-hal berikut:

  1. untuk melanggengkan / membiasakan diri agar selalu bersih dari hadats.
  2. Ketika marah
  3. Mengulangi wudu untuk tiap salat
  4. Bagi setiap Muslim untuk selalu tampil dengan wudu
  5. Ketika membaca al-Qur’an,
  6. Ketika Melantunkan azan dan iqamat,
  7. Ketika hendak tidur,
  8. Sebelum mandi wajib,
  9. Ketika hendak mengulangi hubungan badan
  10. Ziarah ke makam Nabi Muhammad,
  11. Menyentuh kitab-kitab syar’i.

3). Makruh

Hukumnya menjadi makruh jika dalam pelaksanannya, air yang digunakan dapat menimbulkan penyakit. Seperti berwudhu di tong besi yang dipermukaannya terdapat bercak logam. Meski airnya suci,  namun hal itu dapat menimbulkan penyakit kulit bagi pengguna. Oleh sebab itu, sebaiknya ditinggalkan. Carilah tempat lain yang layak untuk berwudhu

Tata Cara Wudhu

Dalam wudhu, ada hal-hal yang wajib (fardhu) dilakukan, adapula yang sunnah.

Anggota badan yang wajib dibasuh/diusap adalah ketentuan inti. Jika tidak dikerjakan, maka wudhunya tidak sah.

Sebaliknya, Anggota yang sunnah merupakan tuntunan yang dianjurkan untuk dibasuh/diusap. Hanya saja jika tidak dikerjakan, maka tidak mempengaruhi sah tidaknya pelaksanaan wudhu.

Fardu Wudhu

Ketentuan-ketentuan yang wajib dikerjakan dalam wudhu adalah sebagai berikut:

1). Niat

Niat dilakukan untuk membedakan wudhu dengan perbuatan-perbuatan lainnya. Dasar dari niat ini adalah hadits Rasulullah SAW:

2). Membasuh muka

Batasan wajah dihitung dari sisi-sisi tumbuhnya rambut, cuping telinga kanan dan kiri, dan dagu. Jika berjanggut, maka janggutnya juga perlu di basuh.

3). Membasuh tangan hingga siku

Pastikan  kotoran-kotoran yang nenempel pada kuku dibersihkan agar tidak menghalangi air. Sebab kuku juga termasuk anggota yang wajib di basuh.

4). Mengusap kepala

Ada perbedaan pandangan dikalangan ulama tentang tatacara mengusap kepala. Menurut Imam Syafi’i, cukup dengan mengusap beberapa rambut. Menurut imam hambali, yang diusah adalah sebagaina kepala. Sedang menurut Imam Malik, sebagian besar rambutnya perlu dibasuh (dengan alasan “lil ikhtiyat” atau untuk menjaga kehati-hatian)

5). Membasuh kaki hinga matakaki

Ayat di atas sudah jelas menyebutkan untuk membasuh kaki hingga matakaki. Hal ini dikuatkan oleh hadits Rasul SAW berikut:

6). Tertib / berurutan

Hal ini dafahami dari urutan pelaksaanaan wudhu yang disebutkan dalam Al-Maidah ayat 6 di atas.

Sunah Wudhu

Perbuatan-perbuatan sunnah dalam wudhu dapat dilakukan berdasarkan keterangan hadits nabi SAW.

  1. Bersiwak
  2. Membaca Basmalah
  3. Membasuh telapak tangan
  4. Berkumur-kumur
  5. Menghirup air
  6. Mengusap telinga
  7. Mendahulukan anggota tubuh bagian kanan

Ketentuan sunnah di atas tidak bersifat memaksa. Artinya, boleh ditinggalkan. Meski demikian, mengerjakannya jauh lebih utama, sebab mengikuti tuntunan Nabi SAW. Sehingga dihitung pahala bagi yang mengerjakannya.

Rangkaian Wudhu

Jika tatacara wudhu di atas diruntut secara lengkap, maka akan seperti berikut:

  1. Bersiwak
  2. Membaca Basmalah
  3. Niat
  4. Membasuh telapak tangan
  5. Berkumur
  6. Menghirup air
  7. Membasuh muka
  8. Membasuh tangan hingga siku (mendahulukan kanan)
  9. Mengusap telinga
  10. Mengusap kepala
  11. Membasuh kaki hinga matakaki (mendahulukan kanan)
  12. Tertib / berurutan 

Do’a Wudhu

Dalam proses pelaksanaan wudhu, ada do’a-doa yang dianjurkan untuk dibaca. Adapun serangkaian do’a tersebut dapat Anda simak berikut ini:

1. Do’a Membasuh Telapak Tangan

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ يَدَيَّ مِنْ مَعَاصِكَ كُلِّهَا
“Ya Allah peliharalah kedua tanganku dari semua perbuatan maksiat kepada Mu”
2. Do’a Berkumur
اَللّٰهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah bantulah aku untuk selalu mengingat Mu, mensyukuri Mu, dan selalu memperbaiki ibadah kepada Mu”
3. Do’a Menghirup Air
اَللّٰهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَةَ الجَـنَّةِ وَاَنْتَ عَنِّي رَاضٍ
“Ya Allah berikan aku penciuman wewangian syurga dan keadaan Engkau terhadap diriku yang selalu meridhoi”
4. Do’a Membasuh Muka 
اَللّٰهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِى يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ
“Ya Allah putihkan wajahku pada hari menjadi putih berseri wajah-wajah kaum muslimin dan menjadi hitam legam wajah-wajah orang kafir”

5. Do’a Membasuh Tangan Kanan

اَللّٰهُمَّ اَعْطِنِى كِتاَبِى بِيَمِيْنِى وَحَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيْرًا
“Ya Allah berikanlah kepadaku kitab amalku dari dari tangan kananku, dan hisablah aku dengan hisab yang ringan”

6. Do’a Membasuh Tangan Kiri

اَللّٰهُمَّ لاَ تُعْطِنِى كِتاَبِى بِشِمَالِى وَلاَمِنْ وَرَاءِ ظَهْرِىْ
“Ya Allah jangan Engkau berikan kepadaku kitab amal dari tangan kiriku, atau dari belakang punggungku”
7. Do’a Mengusap Rambut Kepala
اَللّٰهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ
“Ya Allah haramkan rambutku dan kulitku atas api neraka”
8. Do’a Mengusap Kedua Telinga
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ اْلقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan nasehat dan mengikuti sesuatu yang terbaik di dalamnya”
9. Do’a Membasuh Kaki Kanan
 اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ قدَمَيَّ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تُثَبِّتُ فِيْهِ اَقْدَامَ عِبَادِكَ الصَالِحِينَ
“Ya Allah, mantapkan kakiku di atas titian (shirothol mustaqim) pada hari dimana dimantapkannya kaki-kaki para hamba Mu yang shalih”
10. Do’a Membasuh Kaki Kiri

اَللّٰهُمَّ لَاتَزِلُّ قدَمَيَّ عَلَى الصِّرَاطِ فِي النَّارِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ اَقْدَامُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْمُشْرِكِينَ
“Ya Allah jangan kau gelincirkan kakiku di atas titian (shirothol mustaqim) pada hari digelincirkannya kaki orang-orang munafik dan orang-orang musyrik”
11. Do’a Usai Berwudhu
اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci”

Perkara yang membatalkan wudhu

Dalam fiqih Syafi’iyah, ada tiga perkara yang dapat membatalkan wudhu. Yaitu mengeluarkan sesuatu dari anus atau kemaluan, menyentuh kemaluan dan lawan jenis yang bukan muhram (bukan wanita yang haram dinikahi selamanya), serta hilangnya akal.

1). Karena mengeluarkan sesuatu

Wudhu mejadi batal jika seseorang mengeluarkan hal-hal berikut dari kemaluan/anus :

  1. Benda cair: darah, kencing, dan nanah.
  2. Benda padat: tinja, cacing, bahkan batu dan kelereng.
  3. Udara: kentut, baik kentut detektif (tanpa bunyi), ataupun kentut pemusik (bersuara).

Dasar kentut dapat membatalkan wudhu adalah hadits berikut:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا, فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ, أَمْ لَا? فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا, أَوْ يَجِدَ رِيحًا – أَخْرَجَهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mendapati ada terasa sesuatu di perutnya, lalu ia ragu-ragu apakah keluar sesuatu ataukah tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid hingga ia mendengar suara, atau mendapati bau.” Diriwayatkan oleh Muslim. (HR. Muslim no. 362).

2). Menyentuh anggota tubuh tertentu

Ada dua jenis sentuhan yang dapat membatalkan wudhu, baik disengaja maupun tidak.

Pertama, menyentuh wanita yang bukan muhram tanpa penghalang. Wanita muhram yang dimaksud disini adalah wanita yang haram dinikahi selamanya.

Berikut daftar wanita yang tidak membatalkan wudhu jika bersentuhan:

  • Ibu ke atas (ibu kandung, ibu tiri, ibu mertua, ibu susuan, nenek, uyut)
  • Anak perempuan ke bawah (Anak kandung, anak tiri, anak susuan, cucuk, cicit)
  • Bibi (Baik saudari perempuan ayah maupun ibu, bibi susuan)
  • Saudari perempuan (saudari kandung, saudari tiri, saudari susuan)
  • Keponakan perempuan

Untuk lebih jelasnya, periksa kembali daftar wanita yang haram dinikahi.

berdasarkan keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa jika bersentuhan dengan wanita yang tidak disebutkan di atas, maka bisa dipastikan wudhunya batal.

Perlu diketahui, Ada tiga organ tubuh wanita non-muhram yang dikecualikan. Yaitu gigi, kuku dan rambut. Menyentuh ketiganya tidak membatalkan wudhu.

Kedua, menyentuh kemaluan / anus dengan telapak tangan. Sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

(حديث بسرة بنت صفوان أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (من مس ذكره فليتوضأ

Hadits riwayat Busrah binti Sofwan, bahwasannya Nabi S.A.W. bersabda, barang siapa menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia berwudhu.

Arti kata massa “مس” dalam hadits ini adalah menyentuh dengan telapak tangan. Jika setelah berwudhu, bagian privat Anda terasa sangat gatal, solusinya cukup digesek dengan pergelangan tangan.

Dalam suatu kasus, manakala ada seorang laki-laki menyentuh kemaluan pria lain dengan telapak tangan, maka yang menyentuh adalah yang batal wudhunya, bukan yang disentuh.

3. Hilangnya Akal

Hilangnya akal bisa disebabkan oleh mabuk, tidur, atau sakit tertentu. Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur seperti pada umumnya.

عن معاوية رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :” العين وكاء السّه ، فإذا نامت العينان استطلق الوكاء” رواه : أحمد ، والطبراني وزاد : ومن نام فليتوضأ

Dari mu’awiyah R.A, Rasulullah S.A.W. bersabda: mata adalah tali dubur, jika kedunya tertidur, maka lepaslah talinya. (H.R. Ahmad, dan Tabrani menambahkan dalam haditsnya: barangsiapa yang tidur, maka hendaknya ia berwudhu.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *