oleh

Macam-Macam Mujtahid Menurut Para Pakar Hukum Islam

-Hukum Islam-204 views

Mujtahid adalah orang yang memiliki kapasitas untuk berijtihad mengenai hukum islam. Mereka memiliki keahlian dan pengetahuan yang mumpuni di bidang syariah. Karenanya, pendapat-pendapat mereka sangatlah diperhitungkan.

Level mereka cukup beragam. Hal ini didasari dari segi kamampuan dalam berijtihad. Semakin piawai penguasaan dalil dan metode penggalian hukum yang mereka kuasai, maka tingkatannya akan semakin tinggi.

Baca: uraian lengkap seputar pengertian, dalil, hukum dan syarat ijtihad

Pendapat Al-Ghazali

Al-Ghazali dalam kitab “ Almustasfâ” membaginya atas dua tingkatan:

  • Mujtahid mutlak, yakni orang yang telah menguasai segenap syarat-syarat ijtihad.
  • Mujtahid muntasib, yakni orang yang hanya berijtihad dalam bidang-bidang tertentu saja, karena keterbatasan pengetahuannya.

Menurut Ibnu Qayyim

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah  (Lihat Ibn Qayyim al-Jauziyyah, I’lâm al-Muwaqqi’în (Panduan Hukum Islam), penerjemah: Asep Saefullah FM, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2000), cet. ke-1, h. 705-707.) membagi kepada empat tingkatan. Masing-masing tingkatan itu dapat dirangkum sebagai berikut:

a. Orang yang mengetahui Kitabullah (Al-Qur’an), sunnah Rasul dan ucapan-ucapan para sahabat.

Atas dasar itu ia mampu memberikan solusi hukum atas peristiwaperistiwa yang dihadapi dalam masyarakat.

Meski tidak terhindar dari mengikuti orang lain, hal demikian tidak menggeser kedudukannya sebagai mujtahid, karena pengetahuan dan kemampuannya menggali hukum dari sumber-sumbernya, sehingga ia mampu memberikan solusi hukum atas masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Al-Syafi’î, dalam satu masalah tentang haji, mengikuti Atâ, seorang tabi’in, namun demikian ia tetap dipandang sebagai mujtahid, bukan muqallid.

b. Mujtahid muqayyad (yang terbatas) dalam lingkungan mażhab imam yang diikutinya.

Ia dalam peringkat ini mengetahui fatwa, ucapan, sumber, dan metode ijtihad imam yang diikutinya, bahkan ia mampu berijtihad dalam menghadapi masalah baru yang belum ditemukan solusi hukumnya dari imam yang diikutinya, sehinga memungkinkan untuk tidak mengikuti ijtihad imamnya.

Akan tetapi ia tetap mengikuti metode ijtihad imamnya itu dan memberikan fatwa atas dasar metode tersebut.  Tidak hanya itu, ia bahkan  menghimbau oarng lain agar mengikuti mażhab imamnya.

c. Mujtahid fî al-mażhab (dalam satu mażhab), di mana ia menghubungkan dirinya kepada mażhab tersebut.

Ia tingkatan ini mengetahui dalil-dalil dan fatwa-fatwa imamnya, dan ia tidak mau keluar dari apa yang telah digariskan oleh imamnya.

Oleh karena itu, ia tidak merasa perlu mengetahui al-Qur’an, sunnah dan seluk-beluk bahas Arab, karena telah merasa cukup dengan apa yang telah digariskan oleh imamnya tentang itu.

d. Kelompok orang yang menghubungkan dirinya kepada suatu mażhab, mengetahui fatwa-fatwa dalam mażhab tersebut, dan memantapkan dirinya sebagai muqallid dalam mażhab tersebut.

Jika mereka menyebut al-Qur’an dan sunnah dalam suatu masalah, itu hanya untuk mendapatkan berkahnya, bukan sebagai argumentasti hukum.

Kalau ditunjukan kepada mereka fatwa para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, dan sahabat-sahabat yang berlawanan dengan fatwa imamnya, maka mereka tetap berpegang kepada fatwa imamnya, karena imam lebih tahu tentang itu daripada mereka sendiri.

Pandangan Wahbah Al-Zuhaily

Wahbah Al-Zuhaily (Lihat Wahbah Al-Zuhaily, Usûl, h. 1107-1109.) yang mengutip pendapat al-Suyûti, Ibn Al-Salah dan Al-Nawâwî, membagi mujtahid kepada lima tingkatan, yaitu sebagai berikut:

a. Mujtahid al-Mustaqill, yaitu orang yang membangun fikih atas dasar metode dan kaidah yang ditetapkannya sendiri.

Dengan kata lain, ia memiliki usul fikih dan fikih tersendiri yang berbeda dari usul fikih dan fikih mujtahid lain.

Orang-orang yang termasuk dalam kategori ini adalah imam mażhab yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal).

b. Al-Mujtahid al-Mutlaq gair al-Mustaqill, yaitu orang yang telah memenuhi syarat-syarat untuk berijtihad, tetapi tidak memiliki metode tersendiri dalam melakukan ijtihad, ia melakukan ijtihad sesuai dengan metode yang sudah digariskan oleh salah seorang imam dari imam-imam mażhab.

Meski mengikuti metode salah satu metode imam mażhab dalam melakukan ijtihad, mujtahid tingkat ini tidak terpengaruh oleh imam mażhab tersebut.

Atau dengan kata lain, ia memiliki suatu bentuk fikih tersendiri, tetapi tidak memiliki ushul fikih.

Contoh dalam tingkat ini antara lain: Abu Yusuf, Muhammad, dan Zufar dari kalangan Hanafiyah; Ibn Al-Qasim dan Asyhab dari kalangan Malikiyah; Al-Buwaitî, Za’farânî, dan Al-Muznî dari kalangan Syafi’iyah.

c. Al-Mujtahid al-Muqayyad atau Mujtahid al-Takhrîj, yaitu orang yang telah memiliki syarat-syarat berijtihad, mampu menggali hukum dari sumbersumbernya, tetapi tidak mau keluar dari dalil-dalil dan pandangan imamnya.

Meski demikian, dalam masalah-masalah yang tidak dibicarakan oleh imamnya, ia tampil untuk meng-istinbatkan hukumnya. Dengan demikian, tingkatan ini biasa pula disebut mujtahid fî al-Mażhab (mujtahid dalam satu mażhab).

Di antara tingkatan ini adalah : Hasan ibn Ziyâd, Al-Karkhî, Al-Sarakhsî dari mażhab Hanafi; Al-Abhari dan Ibn Abi Zaid dari mażhab Maliki; Abu Ishâq Al-Syirâzî dan al-Marwâzî dari mażhab Syafi’i.

d. Mujtahid al-Tarjîh, yaitu ahli fikih yang berupaya mempertahankan mażhab imamnya, mengetahui seluk-beluk pandangan imamnya, dan mampu mentarjihkan pedapat yang kuat dari imam dan pendapat-pendapat imamnya, dan mampu mentarjihkan pendapat yang kuat dari imam dan pendapat-pendapat yang terdapat dalam mazhanya.

Contoh: al-Qaduri dan al-marginani dari mażhab hanafi.

e. Mujtahid al-Fatyâ, yaitu ahli fikih yang berupaya menjaga mażhabnya, mengembangkannya, dan mengetahui seluk-beluknya, serta mampu memberikan fatwa dalam garis yang telah ditentukan oleh imam mażhabnya, tetapi tidak mampu ber-istidlâl.

Pemikiran Abu Zahrah

Selain pendapat-pendapat tersebut di atas, Muhammad Abu Zahrah membagi menjadi beberapa tingkat, sebagaimana berikut:

a. Mujtahid fî al-syar’i, atau disebut juga mujtahid mustaqill (independent, mandiri), yaitu mujtahid yang memenuhi syarat-syarat ijtihad dan memiliki metode tersendiri dalam melakukan ijtihad, seperti disebutkan di atas.

Ulama pada tingkatan inilah yang mempunyai otoritas mengkaji ketetapan hukum langsung dari al-Qur’an dan sunnah, melakukan qiyas, mengeluarkan fatwa atas pertimbangan maslahat, menerapkan dalil istihsan dan berpendapat dengan dasar sadd al-żarâ’î. Dengan kata lain, mereka berwenang menggunakan seluruh metode istidlâl yang mereka ambil sebagai pedoman, tidak mengekor kepada mujtahid lain.

Mereka merumuskan metodologi ijtihadnya sendiri dan menerapkannya pada masalah-masalah furu’ (cabang).

Pendapatnya kemudian disebarluaskan ke tengah masyarakat. Termasuk dalam kategori mujtahid ini, adalah seluruh fuqahâ` sahabat, fuqahâ` tabi’in semisal Sa’id bin Musayyab dan Ibrahim Al-Nakha’î, dan fuqahâ` Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Auzâ’î, Al-Laiŝ bin Sa’ad, Sufyan Al-Ŝaurî, Abu Ŝaur dan masih banyak lagi.

Meskipun mażhab mereka tidak terhimpun dalam sebuah karangan kita, namun di celah-celah kitab-kitab yang menguraikan perbedaan pendapat fuqahâ` sering ditemukan pendapat-pendapat mereka dinukil dengan riwayat yang tidak diragukan kebenarannya. – (Muhammad Abu Zahrah, Usûl al-Fiqh, h. 389; Hasbi Ash Shidieqy, Pengantar, h. 102. Lihat pula Mukhtar Yahya dan Fatchurrahman, Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986), cet. ke-1, h. 383-384.)

b. Al-Mujtahid al-Muntasib ( المجتهد المنتسب ), yaitu mujtahid yang mengambil/memilih pendapat-pendapat imamnya dalam usul dan berbeda pendapat dari imamnya dalam cabang (fur’u), meskipun secara umum ijtihadnya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang hampir sama dengan hasil ijtihad yang diperoleh imamnya. Karena di antara keduanya ada hubungan persahabatan cukup kental. Ibn Abidin berpendapat, “termasuk dalam level ini adalah murid-murid Abu Hanifah”.

c. Al-Mujtahid fî al-Mażhab ( المجتهد فى المذهب ), yaitu mujtahid yang mengikuti imamnya baik dalam usul maupun dalam fur’u yang telah jadi.

Peranan mereka terbatas melakukan istinbât hukum terhadap masalah-masalah yang belum diriwayatkan oleh imamnya.

Menurut mażhab Maliki, suatu masa tidak pernah kosong dari mujtahid mażhab.

Tugas mereka dalam ijtihad adalah menerapkan illat-illat fikih yang telah digali oleh para pendahulunya terhadap masalah-masalah yang belum dijumpai di masa lampau.

Mereka dalam tingkatan ini tidak hendak melakukan ijtihad terhadap masalah-masalah yang telah ada ketetapannya di dalam mażhabnya, kecuali dalam lingkup terbatas.

Yakni, dalam hal istinbât ulama terdahulu (sâbiqûn) didasarkan pada pertimbangan yang sudah tidak relevan lagi dengan tradisi dan kondisi masyarakat dari ulama mutaakhkhirîn.

Sekiranya ulama sâbiqûn itu menyaksikan kenyataan yang disaksikan ulama sekarang, niscaya akan mencabut pendapatnya itu.

d. Al-Mujtahid al-Murajjih ( المجتهد المرجح ), yaitu mujtahid yang tidak melakukan istinbât terhadap hukum-hukum fur’u yang belum sempat ditetapkan oleh ulama terdahulu dan belum diketahui hukumnya.

Yang mereka lakukan hanyalah mentarjih atau mengunggulkan di antara pendapat – pendapat yang diriwayatkan dari imam dengan alat tarjih yang telah dirumuskan oleh mujtahid pada tingkatan di atasnya.

Perbedaan antara tingkatan ini dan tingkatan di atasnya, sesungguhnya tidak begitu jelas. Sebagian ahli usul bahkan menggabungkan dua tingkatan itu menjadi satu tingkatan. Hal ini, tidak terlalu jauh menyimpang, sebab kegiatan mentarjih pendapat-pendapat ulama sesuai dengan usulnya tidak jauh berbeda dari kegiatan istinbât terhadap hukum-hukum fur’u yang belum pernah dikaji oleh imam-imam mażhab.

Dan imam Nawawi–di dalam kitab Majmû’—juga menguraikannya dalam satu tingkatan.

e. Al-Mujtahid al-Muwâzin ( المجتهد الموازن ) yang membanding-bandingkan antara beberapa pendapat dan riwayat. Yang mereka lakukan, misalnya menetapkan bahwa qiyas yang dipakai dalam pendapat ini lebih mengena dibanding dengan penggunaan qiyas pada pendapat yang lain. Atau, pendapat ini lebih sahih riwayatnya atau lebih kuat dalilnya.

Jadi sebenarnya perbedaan antara tingkatan ini  dengan tingkatan di atasnya tidak begitu jelas betul.

Agar pembagian tingkatan mujtahid dapat dibedakan dengan jelas, tidak tumpang tindih, maka sebaiknya dibuang satu tingkatan dari tiga tingkatan yang diturunkan oleh Ibn Abidin tersebut yaitu tingkatan ketiga, keempat dan kelima lalu digabungkan menjadi dua tingkatan sebagai berikut:

  1. Tingkatan Mukharrij ( المخرج ), yaitu mujtahid yang mengeluarkan ketetapan hukum terhadap masalah-masalah yang belum mendapat perhatian pembahasan dari para perintis mażhab dengan mendasarkan kepada kaidahkaidah dari mażhab tersebut.
  2. Tingkatan Murajjih ( المرجح ), yaitu mujtahid yang bertindak mentarjih di antara beberapa riwayat dan pendapat yang berbeda-beda. Hasilnya, dapat diketahui riwayat yang paling dekat kepada sunnah atau qiyas yang sahih; atau yang lebih besar manfaatnya untuk kepentingan masyarakat luas.

Kesimpulan

Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat mujtahid sesuai dengan persyaratan yang dimiliki dan kegiatan yang dilakukannya dalam berijtihad adalah sebagai berikut:

Pertama: Mujtahid mutlak mustaqill atau disebut juga mujtahid fî al-hukm alsyar’î, yaitu orang yang memenuhi syarat-syarat ijtihad yang sempurna dan memiliki metode tersendiri dalam melakukan ijtihad, atau orang yang membangun fikih atas dasar metode dan kaidah yang ditetapkannya sendiri.

Dengan kata lain, ia memiliki usul fikih dan fikih tersendiri yang berbeda dari usul fikih dan fikih mujtahid lain.

Kedua: Mujtahid mutlak gair mustaqill yaitu orang yang telah memenuhi syarat-syarat untuk berijtihad tetapi tidak memiliki metode tersendiri dalam berijtihad.

Ia berijtihad sesuai dengan metode yang sudah digariskan oleh salah seoarang imam dari imam-imam mażhab.

Walaupun mengikuti salah satu metode imam mażhab dalam berijtihad, mujtahid tingkat ini tidak terpengaruh oleh imam mażhab tersebut.

Dengan kata lain, ia dalam tingkat ini memiliki suatu bentuk fikih tersendiri, tetapi tidak memiliki usul fikih.

Ketiga: Mujtahid muqayyad atau mujtahid takhrîj, yaitu seseorang yang telah memiliki syarat-syarat berijtihad, mampu menggali hukum dari sumbersumbernya, tetapi tidak mau keluar dari dalil-dalil dan pandangan imamnya.

Walau demikian, dalam masalah-masalah yang tidak dibicarakan oleh imamnya, ia tampil untuk mengistinbatkan hukumnya.

Keempat: Mujtahid tarjîh, yaitu ahli fikih yang berupaya mempertahankan mażhab, mengetahui seluk-beluk pandangan imamnya, dan mampu mentarjihkan pendapat yang kuat dari imam dan pendapat-pendapat yang terdapat dalam mażhabnya.

Mujtahid separti ini disebut juga mujtahid muntasib. Penggunaan istilah muntasib untuk sahabat-sahabat imam di atas hanya sekedar istilah untuk para mujtahid dari sahabat-sahabat mażhab yang menjadi pengikut, di mana pendapat mereka disejajarkan dengan pendapat imam mażhabnya.

Kelima: Mujtahid al-fatyâ, yaitu ahli fikih yang berupaya menjaga mażhabnya, mengembangkannya dan menegtahui seluk-beluknya serta mampu memperikan fatwa dalam garis yang ditentukan oleh imam mażhabnya, tetapi tidak mampu beristidlâl.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed