hukum menjual miras

Hukum Menjual Miras kepada non-Muslim

Diposting pada 1.085 views

Hukum Menjual Miras – Islam merupakan agama rahmatan lil alamin, agama yang menebar kasih sayang bagi alam semesta beserta isinya.

Ajaran-ajaran yang dianut tidak lain untuk menjaga keseimbangan, ketentraman, serta kebaikan bagi manusia.

Salah satunya diimplementasikan dengan diharamkannya miras (Minuman Keras).

Kebijakan hukum ini bukan lah sesuatu yang mengada-ada. Sebab, miras adalah bahan perusak keseimbangan akal.

Dengan berfungsinya akal, kita mengetahui hal-hal mana saja yang perlu dilakukan dan ditinggalkan, serta membangun suatu peradaban.

Ketika akal menjadi pilar kemajuan dan kebaikan, alangkah naifnya jika ia dirusak.

Kita melihat, banyak pola kejahatan dan pelanggaran yang terjadi akibat konsumi miras.

Kasus-kasus pemerkosaan berikut korbannya terjadi dalam keadaan mabuk.

Konsentrasi pengemudi  terganggu saat mabuk. Hal ini sangatlah membahayakan dirinya dan orang lain.

Dan banyak peristiwa kriminal lain akibat mengkonsumsi miras yang tidak perlu saya sebutkan di sini.

Hukum Menjual Miras

Salah satu tujuan syariah Islam adalah menjaga akal. Karenanya diharamkan mengkonsumsi miras (bir/alkohol), sabu, heroin, ekstasi, dan sejenisnya.

Termasuk juga diharamkan segala hal yang berkaitan dengannya, seperti membeli, menjual, memberi, menyimpan, memproduksi, dll.

Kita tidak diperkenankan merusak akal siapapun, tidak terkecuali akal non-muslim.

Karena itu, menjual miras kepada non-muslim tetap tidak dibenarkan.

Bagaimana jika dananya untuk kebaikan? Misalnya untuk shadaqah.

Perlu diketahui, sumber dana yang ditolelir dalam Islam ada 2, yaitu:

  1. Dananya diperoleh dari cara halal. Hal ini dianjurkan.
  2. Dananya syubhat (tidak jelas), tidak diketahui halal haramnya. Hal ini Lebih baik ditinggalkan.

Sedang, melakukan perbuatan yang haram (selama tidak darurat) untuk kebaikan tetap tidak diperkenankan dalam Islam.

Korupsi untuk memberi makan keluarga, mencuri untuk bersedekah, termasuk menjual miras untuk pembangunan masjid, dan lain sebagainya.

Semua perbuatan di atas jelas-jelas dilarang dalam Islam.

Berbeda jika darurat, misalnya untuk menjaga kelangsungan hidup, maka yang diperkenankan adalah mengkonsumsi seperlunya.

Seperti saat berada ditengah padang pasir, Anda terpaksa meminum miras karena sangat kehausan, dan tidak ada minuman lain selain itu. Jika tidak mengkonsumsi, Anda bisa tewas.

Pandangan ini didasari oleh ayat-ayat berikut:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ َلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيم

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah : 173)

فَمَنِ اضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ  ۙ  فَإِنَّ اللّٰـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Maidah: 3)

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (al-An’am: 119)

Atas landasan ayat di atas, kita mengenal kaidah:

الضرورة تبيح المحظورات

Keterpaksaan memperkenankan dilakukannya hal-hal yang dilarang.

Orang2 yang menerima shadaqah belum tentu dalam keadaan darurat. Mereka masih berkemungkinan mendapatkan dana yang halal.

Coba perhatikan dalil sunnah berikut:

وروى أبو داود (3674) وابن ماجه (3380) عن ابْنِ عُمَرَ قال قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ ). وصححه الألباني في صحيح أبي داود .

(Allah melaknat miras (arak), peminumnya, orang yang memberi minum, orang yang memerasnya (membuatnya), orang yang meminta diperaskan (minta dibuatkan miras), penjualnya, pembelinya, pembawanya, orang yang minta dibawakannya.”

Dalam riwayat yang lain:

ورواه الترمذي (1295) عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : ( لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشْرَةً عَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَشَارِبَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَآكِلَ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةُ لَهُ

Rasul melaknat 10 hal ttg miras, yaitu pemerasnya; yang diperaskan; peminumnya; pembawanya; yang dibawakan; penuangnya; penjualnya; pemakan harganya; pembelinya; dan yang dibelikan.” (Lihat HR at-Tirmidzi, hadits ke 1295).

Metode Pemberantasan Miras

Dalam sejarah penyebaran Islam era Rasulullullah, saat itu, minum miras merupakan bagian dari tradisi yang sangat mengakar.

Orang arab jahiliyah mengkonsumsi miras layaknya mengkonsumsi air mineral dewasa ini.

Hemat saya, andai saja ajaran syariat begitu kaku, dengan mengharamkan miras secara mutlak kepada mayarakat yang notabene keimanannya masih rapuh, disaat yang bersamaan, ia merupakan bagian dari budaya yang mengakar, mungkin mereka akan menolak Islam.

Untuk pertama kali, syariat tidak serta merta mengharamkan miras. Model dakwah yang diterapkan sangat memperhatikan tahapan kondisi masyarakat saat itu.

Proses dakwah pemberantasannya pun terdiri dari tiga tahap.

Pertama, tahap lunak dg memberikan informasi tentang manfaat dan dosa mengkonsumsi miras:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا َۗ

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya. (Al-Baqarah: 219)

Tahap kedua, tahap menengah dg memberikan anjuran menghentikan mengkonsumsi miras:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti? (al-Maidah: 91)

Tahap ketiga, perintah untuk meninggalkan miras (secara mutlak).

Kebijakan hukum ini diterapkan ketika kondisi ketergantungan masyarakat muslim terhadap miras sudah memudar, disamping keimanan mereka sudah terbilang kokoh.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung. (al-Maidah: 90)

Demikian ulasan hukum menjual miras, semoga bermanfaat.

والله اعلم

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.