fungsi dan perbedaan asbabun nuzul dan asbabul wurud

Arti, Fungsi, Perbedaan Asbabun Nuzul dan Asbabul Wurud

Al-Qur’an dan Hadits adalah sumber hukum Islam yang sejatinya tidak pernah kering dari kajian. Dalam menganalisa hukum, seorang mujtahid perlu memahami sebab-sebab diturunkan ayat serta latar belakang hadits Rasulullah SAW.

Persoalan ini bukanlah persoalan sepele, mengingat mengetahui latar belakang sebuah dalil al-Qur’an dan Hadits sangat membantu memperjelas maksud-maksud dalil itu sendiri.

Analisa Arti

Berdasarkan tinjauan bahasa, Asbabun Nuzul dan Asbabul Wurud terdiri dari tiga kata pokok, yaitu as-sabab, an-Nuzul, dan al-Wurud.

Asbab adalah bentuk jamak dari kata sabab (سباب – اسباب) , yaitu penyebab, faktor, atau latar belakang.

An-Nuzul dari kata nazala ( نزل – ينزل –  نزولا), yang artinya turun. Dan yang dimaksud nuzul di sini adalah turunnya ayat kepada Rasul SAW.

Dan al-Wurud dari kata warada (ورد – يرد – ورودا) , yang berarti tiba. Yakni diungkapkannya hadits oleh Rasulullah SAW.

Lantas bagaimana membedakan Asbabun Nuzul dan Asbabul Wurud?

Perbedaan Asbabun Nuzul dan Asbabul Wurud

Asbabun Nuzul adalah penyebab / peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi diturunkannya ayat al-Qur’an kepada Rasulullah SAW.

Sedang Asbabul Wurud yaitu penyebab / segala peristiwa yang melatarelakangi diungkapkannya hadits oleh Rasulullah SAW.

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa Asbabun Nuzul membicarakan penyebab turunnya ayat, sedang Asbabul Wurud membahas penyebab terwujudnya hadits.

Contoh Asbabun Nuzul

Perlu diketahui, penyebab turunnya ayat bisa dikarenakan oleh suatu peristiwa tertentu, bisa juga karena pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah yang mengakibatkan turunnya ayat sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Bentuk peristiwa

Seperti peristiwa perselisihan antara segolongan dari suku Aus dan segolongan dari suku Khasraj, dimana orang-orang yahudi meniupkan intik-intik dan mereka berteriak “senjata-senjata”. Kejadian ini menyebabkan turunnya ayat Al-Qur’an surah Ali-imran ayat 100:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orng yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman”.

Bentuk Pertanyaan

Seperti pertanyaan seputar Zulkarnain yang diajukan kepada Rasulullah, yang diikuti dengan turunnya ayat dalam surah Al-Kahfi:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

“Mereka akan bertanya kepadamu Muhammad  tentang Zulkarnain, Katakanlah :”Aku akan bacakan cerita tentangnya”.(QS. Al-Kahfi:83)

Contoh Asbabul Wurud

Seperti hadits yang membicarakan tentang al-Qur’an diturunkan dalam tujuh dialek.

صحيح البخاري – (ج 8 / ص 266) 2241 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفُرْقَانِ عَلَى غَيْرِ مَا أَقْرَؤُهَا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَأَنِيهَا وَكِدْتُ أَنْ أَعْجَلَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَمْهَلْتُهُ حَتَّى انْصَرَفَ ثُمَّ لَبَّبْتُهُ بِرِدَائِهِ فَجِئْتُ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ هَذَا يَقْرَأُ عَلَى غَيْرِ مَا أَقْرَأْتَنِيهَا فَقَالَ لِي أَرْسِلْهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ اقْرَأْ فَقَرَأَ قَالَ هَكَذَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ قَالَ لِي اقْرَأْ فَقَرَأْتُ فَقَالَ هَكَذَا أُنْزِلَتْ إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مِنْهُ مَا تَيَسَّرَ

“Abdullah bin Yusuf telah bercerita kepada saya, Malik telah menceritakan pada saya dari Ibn Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdur rahman bin Abdul Qari, dia berkata: “saya mendengar Umar bin Khathab berkata: “saya mendengar Hisyam bin Hakim bin Hisyam membaca surat al-Furqan dengan bacaan selain yang telah saya baca, padahal Rasulullah saw telah nenbacakan pada saya. Hampir saja saya bertindak terhadap Hisyam. Kemudia saya menunda tindakan saya sampai ia pulang ke rumahnya. Kemudian saya menyeret lengan bajunya untuk mendatangi Rasulullah saw bersamanya. Saya berkata pada Rasulullha saw : bahwa saya mendengar oarng ini membaca ayat yang bukan seperti yang dibacakan Rasulullah. Kemudian Nabi memerintahkan saya “lepaskan orang tersebut”. Kemudian Nabi merkata kepada Hisyam :”bacalah”. Hisyam pun membaca. Kemudian nabi bersabda:”sesungguhmya al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf (dialek), maka bacalah mana yang mudah daripadanya”.

  • 1
    Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.