hukum islam

Uraian Lengkap Jenis dan Pembagian Hukum Islam

Diposting pada 3.143 views

Hukum Islam biasa disebut dengan hukum syariah.

Yaitu hukum Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.

Mukallaf yaitu orang yang terbebani hukum. Dalam Islam, ia adalah seorang yang baligh dan berakal.

Hukum ini terbagi menjadi dua, yaitu taklifi dan wad’i.

Hukum taklifi yaitu hukum yang di dalamnya berupa perintah, larangan, dan pilihan yang ditujukan kepada hamba.

Sedang hukum Wad’i, yaitu hukum yang di dalamnya terdapat keterpautan antara suatu ketentuan dengan ketentuan yang lain.

Pembagian Hukum Islam

Agar Anda dapat memahami dengan baik, saya uraikan hukum Wad’i terlebih dahulu.

Simak penjelasannya secara seksama.

Siapkan konsentrasi Anda.

Hukum Wad’i

Hukum Wad’i tidak membahas perbuatan seorang hamba.

Melainkan membahas keterkaitan hubungan hukum antara satu hal dengan hal lain.

Keterkaitan ini bisa berbentuk:

  • Sebab: seperti pembagian warisan berlaku setelah wafatnya si pemilik. Dalam hal ini, wafatnya si pemilik menjadi sebab berlakunya hukum waris.
  • Syarat: seperti disyaratkannya berwudhu dalam pelaksanaan shalat. Di sini, wudhu menjadi syarat untuk melaksanakan shalat.
  • Mani’: yaitu adanya suatu hal yang menjadi penghalang terlaksananya hukum. Seperti seorang anak yang membunuh ayahnya untuk mendapat warisan. Dan pembunuhan ini menjadi penghalang baginya memperoleh warisan.

Berdasarkan ilustrasi di atas, hukum Wadh’i tidak membahas amaliyah seseorang an sich, akan tetapi membicarakan keterpautan hukum pada suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

Singkatnya, dalam hukum wad’i terdapat dua kejadian yang saling mengikat.

Hukum Taklifi

Pernahkah anda mendengar istilah wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah dalam persoalan agama?

Semua itu masuk dalam kategori hukum taklifi.

Putusan hukum taklifi ini diambil dari 3 unsur: yaitu perintah, larangan, dan pilihan.

Hukum Islam yang berkaitan dengan perintah terbagi menjadi dua, yaitu wajib dan sunnah.

Sedang yang berkaitan dengan larangan disebut haram dan makruh.

Dan yang berhubungan dengan pilihan disebut mubah.

Perintah

Dasar pengambilan hukum islam ini diambil dari redaksi teks al-Qur’an / Hadits. Dan di dalamnya terdapat perintah untuk bertindak.

Jenis perintah ini ada yang bersifat memaksa, ada juga yang bersifat lunak.

Hukum Islam yang bersifat memaksa disebut wajib, sedang yang bersifat lunak disebut sunnah.

1. Wajib

Yaitu hukum yang dalilnya mengandung perintah yang bersifat memaksa untuk bertindak.

Mau tidak mau harus dilaksanakan.

Jika seorang menunaikan perintah sesuai dengan ketetapan Allah, maka ia pantas mendapat pahala.

Namun jika tidak, ia berdosa.

Hukum wajib ini dapat diuraikan dalam beberapa aspek, diantaranya:

Aspek waktu

Jika dilihat dari aspek waktu, wajib terbagi menjadi dua:

A. Wajib Mutlak

Yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas waktunya.

Seperti  menunaikan ibadah haji bagi yang telah mampu.

Seseorang dapat melaksanakannya kapan saja selama hidup.

B. Wajib Muqayyad (terbatas)

Yaitu kewajiban yang hanya dilakukan dalam waktu-waktu tertentu.

Seperti berpuasa di bulan ramadhan, dan menunaikan shalat maghrib.

Perlu Anda ketahui, kewajiban yang telah ditentukan waktunya (muqayyad) terbagi lagi menjadi dua:

A. Wajib Muwassa’

Yaitu kewajiban yang waktunya luas.

Dalam kewajiban ini, kita dapat menjalankan ibadah kapan saja, yang terpenting masih dalam waktunya.

Seperti menunaikan ibadah shalat Isya.

Kewajiban ini dapat ditunaikan di awal waktu, pertengahan malam, atau bahkan di saat menjelang fajar.

Sebab waktunya adalah sejak hilangnya mega merah hingga terbitnya fajar.

B. Wajib Mudhoyyaq

Kewajiban ini sangat dibatasi; sepenuhnya terjadi di dalam waktu tertentu .

Seperti kewajiban menunaikan ibadah puasa yang sepenuhnya hanya di bulan Ramadhan.

Aspek pilihan

Aspek ini menunjukkan ada atau tidaknya suatu pilihan dalam menunaikan kewajiban.

A. Wajib Mu’ayyan

Yaitu kewajiban yang telah ditentukan secara spesifik.

Seseorang tidak memiliki pilihan, kecuali menunaikan apa yang telah ditetapkan kepadanya.

Seperti menunaikan zakat emas, dan melaksanakan shalat ashar dengan 4 rakaat.

B. Wajib Mukhayyar

Yaitu kewajiban dimana dalam pelaksanaannya seseorang dapat menentukan pilihan.

Seperti kewajiban membayar denda dalam pelanggaran sumpah.

Jika seseorang melanggar sumpahnya, ia diwajibkan menunaikan salah satu dari tiga hal berikut: memerdekakan budak, memberi pangan / sandang terhadap 10 orang miskin, atau berpuasa selama 3 hari.

Aspek kuantitas

Aspek ini menunjukkan kewajiban yang harus dilakukan secara individu dan kelompok.

A. Wajib ‘Ain

Yaitu kewajiban yang dibebankan kepada masing-masing individu.

Seperti melakukan shalat 5 waktu, menunaikan zakat fitrah, dll.

B. Wajib Kifayah

Yaitu kewajiban yang dibebankan kepada sekelompok orang.

Jika ada seseorang menunaikan kewajiban ini, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain dalam kelompok tersebut.

Contohnya seperti menunaikan shalat janazah.

Aspek ukuran

Aspek ini menunjukkan ada tidaknya kadar tertentu yang wajib ditunaikan.

A. Wajib Muqaddar

Yaitu kewajiban yang kadarnya telah dibatasi.

Seperti shalat maghrib 3 rakaat, dan kewajiban menunaikan zakat fitrah yang kadar hartanya telah ditetapkan.

B. Wajib Gairu Muqaddar

Yaitu kewajiban yang kadarnya tidak dibatasi.

Seperti menolong orang yang kelaparan.

Seorang dapat memberikan pertolongan sebisanya.

Kadar kewajiban memberikan pertolongan ini tidak dipastikan oleh Allah.

2. Sunnah

Perintah yang terkandung dalam hukum ini bersifat lunak dan tidak pasti.

Karenanya, jika kita berbuat sesuai dengan perintah, maka layak mendapat pahala.

Namun jika tidak, maka tidak berdosa.

Seperti melaksanakan shalat tahajud, membaca al-Qur’an, dll.

Perlu diketahui, Sunnah terbagi lagi menjadi:

A. Sunnah Muakkadah

Yaitu perbuatan Sunnah yang dilakukan oleh Nabi SAW secara langgeng.  

Seperti melaksanakan shalat Witir, shalat Rawatib dua rakaat (sebelum Subuh dan Ashar, serta setelah Dzuhur, Maghrib dan Isya).

B. Sunnah ghairu muakkadah

Disebut juga dengan sunnah biasa, yang ranahnya lebih luas.

Sunnah ini tidak langgeng dilakukan NAbi SAW.

Namun dianjurkan kepada segenap muslim untuk melaksanakannya.

Seperti mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Dzuhur dan sebelum Isya, menyingkirkan duri dari jalan, dan lain-lain. 

Larangan

Larangan yang tercantum dalam ketentuan syara terbagi menjadi dua jenis.

Yaitu larangan yang bersifat memaksa (haram), dan larang yang bersifat lunak (makruh).

1. Haram

Larangan yang terkandung dalam haram sangat memaksa dan tegas.

Seseorang dianggap berdosa jika melakukan apa yang dilarang Allah.

Sebaliknya jika ia tinggalkan, maka pantas mendapat pahala.

Ada dua jenis haram yang perlu Anda ketahui:

A. Haram Lidzatih

Perbuatan pada hukum ini pada dasarnya dilarang, dan sejak semula  diharamkan oleh Allah.

Seperti mencuri, membunuh, berzina, dan lain sebagainya.

B. Haram Ligoirih

Berbeda dari haram lidzatih, perbuatan dalam haram ligoirih awalnya adalah halal, namun karena diperoleh / dilakukan dengan cara haram, akhirnya perbuatan tersebut berubah menjadi haram.

Secara umum, makan roti boleh dilakukan.

Namun karena diperoleh dengan cara mencuri, maka memakannya menjadi haram.

2. Makruh

Yaitu hukum dimana seorang dianjurkan untuk meninggalkan suatu perbuatan.

Larangan dalam hukum ini bersifat tidak memaksa.

Oleh karenanya, seseorang pantas mendapat pahala jika mengabaikannya. Jika dilakukan, ia tidak berdosa.

Seperti menceraikan istri, makan hingga kenyang, dan lain-lain.

Pilihan

Hukum ini biasa disebut dengan mubah.

Artinya boleh dilakukan, boleh juga ditinggalkan.

Seseorang bebas memilih dan menentukan tindakannya, sebab tidak terkait dengan pahala atau dosa.

Ada beberapa tindakan mubah yang kerap kita lakukan.

Seperti minum dengan gelas, makan dengan piring, duduk diatas kursi, berlari, dan lain-lain.

Hukum Taklifi Menurut Hanafiyah

Berdasarkan penjelasan di atas, hukum taklifi terbagi menjadi 5: yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah.

Hanya saja dalam perspektif fiqih Hanafiyyah, hukum taklilfi terbagi menjadi 7: yaitu fardhu, wajib, sunnah, haram, makruh tahrim, makruh tanzih, dan mubah.

Mengenai haram, sunnah, dan mubah, jumhur ulama memiliki kesamaan pandangan dengan kalangan Hanafiyyah.

Yang berbeda hanyalah berkisar pada fardhu, wajib dan makruh.

Fardhu dan Wajib

Jumhur ulama tidak membedakan antara wajib dan fardu.

Keduanya adalah sama.

Sedang menurut Hanafiyyah, wajib dan fardu adalah dua hal yang berbeda.

Kedua hukum ini lahir berdasarkan apakah redaksi perintahnya bersifat Qat’i (pasti), ataukah bersifat Dzanny (praduga).

Dengan catatan, jika dalilnya adalah Qath’iyul Wurud.

Di sini ada dua ketentuan dalil yang berbeda, yaitu Qathiyul Wurud dan Qathiyud Dalalah.

Disebut Qath’iyul Wurud jika dalilnya benar-benar diyakini disampaikan oleh Rasul. Dalil ini bisa berupa al-Qur’an atau hadits mutawattir, shahih dan hasan. Jika tidak diyakini disampaikan oleh Rasul, maka disebut Dzhanniyul Wurud, seperti hadits ahad.

Disebut Qath’iyyud Dalalah jika dalilnya mengandung perintah atau larangan yang bersifat pasti. Namun bila perintah dan larangannya masih dalam prasangka, maka disebut Dzhanniyud Dalalah. 

Dalam perspektif Hanafiyah, jika dalilnya berupa “Qath’iyul wurud” dan perintahnya bersifat pasti, maka hukum yang dihasilkan dari dalil tersebut adalah Fardhu.

Namun jika perintahnya bersifat dzhanny, maka konsekuensi hukumnya adalah Wajib.

Seperti menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Hukumnya adalah fardhu, bukan wajib.

Sesuai dengan dalil berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, difardhukan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Ayat diatas menggunakan redaksi كُتِبَ , yang mengindikasikan bahwa perintahnya bersifat pasti.

Karena itu, mau tidak mau harus dilaksanakan.

Dalam pandangan Hanafiyah, membaca surat al-fatihah dalam shalat 5 waktu hukumnya wajib.

Sesuai dengan dalil dzanny berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَال : لا صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Dari Ubadah bin Shomit R.A. Bahwasannya Rasulullah S.A.W. bersabda: tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca surat al-Fatihah.”

Berdasarkan hadits di atas, kalimat لا صَلاةَ mengandung arti “tidak sempurna shalatnya”, bukan “tidak sah shalatnya”. (H. Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, hlm 224.)

Konsekuensinya, seseorang sah-sah saja tidak membaca al-Fatihah ketika shalat.

Pelajari kembali aspek kuantitas dan kualitas hadits.

Makruh Tahrim dan Makruh Tanzih

Makruh tahrim yaitu sesuatu yang dilarang oleh syariat, dalilnya berupa Dzhanniyul Wurud, namun larangannya bersifat pasti.

Seperti larangan membeli barang yang masih dalam akad jual beli dengan orang lain.

Serta larangan melamar wanita yang dilamar pria lain.

Sesuai dengan hadits Ahad berikut:

لا يحل للمؤمن أن يبتاع على بيع أخيه، ولا يخطب على خطبة أخيه حتى يذر

“Tidak halal bagi seorang mukmin membeli atas pembelian saudaranya, dan melamar atas pinangan saudaranya sampai ia meninggalkannya.”

Hadits di atas menunjukkan redaksi “tidak halal”, larangannya sangat tegas. Namun dalilnya tidak diyakini berasal dari Rasul. Sehingga golongan Hanafiyah mengkategorikannya pada makruh tahrim.

Sedang pada Makruh tanzih, kekuatan dalil dan larangannya bersifat dzanny (Dznanniyul wurud dan Dzanniiyud Dalalah sekaligus).

Makruh tanzih ini searti dengan makruh yang dimaksud oleh jumhur ulama.

 

_____________________

Referensi:

  • Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Darul Fiqr, Bairut, 1908, hlm, 26 – 49.
  • Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, Logos Publishing House, Jakarta, 1996, hlm 224.

One thought on “Uraian Lengkap Jenis dan Pembagian Hukum Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *