membatalkan wudhu

3 Hal / Perkara Yang Dapat Membatalkan Wudhu Perspektif Syafi’iyah

Diposting pada 388 views

Pernahkah Anda melihat orang yang menginjak kotoran hewan kemudian ia berwudhu kembali?

Sebab menurutnya, kejadian tersebut telah membatalkan wudhu.

Padahal jika didalami, menginjak kotoran tidaklah membatalkan wudhu.

Cukup cuci bagian yang terkena najis hingga bersih, lalu tunaikan shalat seperti biasa.

Hal-hal yang membatalkan wudhu

Dalam fiqih Syafi’iyah, ada tiga aspek yang dapat membatalkan wudhu.

Dipersingkat dalam kata-kata kunci berikut: mengeluarkan sesuatu, menyentuh anggota tubuh, dan hilangnya akal.

1. Mengeluarkan sesuatu

Maksudnya, mengeluarkan sesuatu dari anus dan kemaluan.

Jenis yang dikeluarkan bisa berupa:

  1. Benda cair: darah, kencing, dan nanah.
  2. Benda padat: tinja, cacing, bahkan batu dan kelereng.
  3. Udara: kentut, baik kentut detektif (tanpa bunyi), ataupun kentut pemusik (bersuara).

2. Menyentuh anggota tubuh tertentu

Ada dua jenis sentuhan yang dapat membatalkan wudhu, baik disengaja maupun tidak.

Pertama, menyentuh wanita yang bukan muhram tanpa penghalang.

Perhatikan surat al-Maidah ayat 6 berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Ayat di atas menjelaskan bahwa menyentuh wanita dapat membatalkan wudhu. Namun wanita yang dimaksud adalah wanita yang non-muhram, atau yang boleh dinikahi.

Khusus untuk wanita yang selamanya haram dinikahi, seperti ibu, nenek, anak perempuan, saudari perempuan. Menyentuh mereka sama sekali tidak membatalkan.

Simak daftar wanita yang haram dinikahi.

Perlu diketahui, Ada tiga organ tubuh wanita non-muhram yang dikecualikan.

Yaitu gigi, kuku dan rambut.

Jika ketiganya disentuh, wudhunya tetap sah.

Kedua, menyentuh kemaluan / anus dengan telapak tangan.

Sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

(حديث بسرة بنت صفوان أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (من مس ذكره فليتوضأ

Hadits riwayat Busrah binti Sofwan, bahwasannya Nabi S.A.W. bersabda, barang siapa menyentuh kemaluannya, maka hendaknya ia berwudhu.

Arti kata massa “مس” dalam hadits ini adalah menyentuh dengan telapak tangan.

Solusinya, jika setelah berwudhu bagian privat Anda terasa sangat gatal, cukup digesek dengan pergelangan tangan.

Dalam suatu kasus, manakala ada seorang laki-laki menyentuh kemaluan laki-laki lain, maka yang batal wudhunya adalah yang menyentuh, bukan yang disentuh.

3. Hilangnya Akal

Hilangnya akal bisa disebabkan oleh mabuk, tidur, atau sakit tertentu.

Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur seperti pada umumnya.

عن معاوية رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :” العين وكاء السّه ، فإذا نامت العينان استطلق الوكاء” رواه : أحمد ، والطبراني وزاد : ومن نام فليتوضأ

Dari mu’awiyah R.A, Rasulullah S.A.W. bersabda: mata adalah tali dubur, jika kedunya tertidur, maka lepaslah talinya. (H.R. Ahmad, dan Tabrani menambahkan dalam haditsnya: barangsiapa yang tidur, maka hendaknya ia berwudhu.)

Kesimpulan

Mengeluarkan sesuatu dari kemaluan dan dubur, menyentuh kemaluan dan wanita non-muhram, serta hilangnya akal dapat membatalkan wudhu.

Jika salahsatu dari ketiganya terjadi, maka hal yang perlu dilakukan adalah berwudhu kembali.

Demikian, semoga bermanfaat.

__________

Sumber:

Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini, Kifayatul Akhyar, Darul Fiqr, Bairut, 1994, hlm. 28 -30.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *